Blog Teknologi, Pendidikan, Informasi, Hiburan, Kesehatan, Islami dan Apapun Yang Bermanfaat

07 October 2012

Qurban dan Keteladanan Nabi Ibrahim As

by: Sul Pandri, S.Sos.I
 
Tanpa terasa hari raya idul Adha akan kembali menghampiri kita. Idul Adha disebut juga Idul Qurban atau hari raya akbar. Disebut hari raya Qurban, karena pada hari itu umat Islam di syariatkan oleh Allah Swt untuk menyembelih hewan Qurban.
Qurban berasal dari bahasa arab Qarraba, Yuqarribu, Qurbanan yang artinya berhampir diri dengan Allah Swt. Pengertian umum yang sering ditafsirkan oleh masyarakat yaitu penyembelihan berkaitan dengan pelaksanaan denagn cara menyembelih hewan Qurban pasca pelaksanaan Shalat Idul Adha. Kata Qurban pada umumnya sudah menjadi bahasa baku Indonesia sehingga awal Q berubah menjadi awal K. Maka sudah tidak asing lagi kata Qurban diubah menjadi kata “Kurban”. Adha artinya penyembelihan – penyembelihan hewan Qurban.
Penyembelihan itu bermula dari perintah Allah Swt kepada nabi Ibrahim As untuk menyembelih anaknya Ismail As. Allah Swt mensyari`atkan ibadah Qurban kepada umat Islam karena Allah Swt telah menganugerahkan nikmat yang banyak. “sesungguhnya kami telah memberi kamu nikmat yang banyak, karena itu dirikanlah Shalat karena Tuhanmu dan berqurbanlah. Statement ini tertuang pada  Q.S Al-Kautsar : 1 -2. Merujuk pada ayat tersebut, sampai detik ini Allah Swt tidak henti-hentinya memberikan nikmat yang banyah pada umat-Nya. Maka pantaslah kita berkorban untuk Allah Swt sebagai bukti dan tanda terima kasih kepada Allah Swt. Makna yang tersirat pada pelaksanaan ibadah Qurban sangatlah banyak. Diantaranya ;
Pertama, ibadah Qurban merupakan salah satu wujud rasa syukur atas karunia dan nikmat yang diberikan Allah Swt kepada umat Islam. Rasa syukur tersebut diwujudkan dengan cara menyembelih hewan Qurban, kemudian dibagikan sebagian kepada fakir miskin dan kaum kerabat. Selain wujud rasa syukur kepada Allah Swt, seorang hamba Allah Swt juga menumbuhkan nilai dan semangat solidaritas sosial dalam bentuk berbagi dengan kaum fakir – miskin.
Kedua, walaupun ibadah Qurban hanya disyari`atkan pada hari raya Idul Adha, akan tetapi semangat berqurban harus tetap dijaga oleh setiap muslim. Setiap muslim harus rela mengorbankan sebagian harta, pikiran, tenaga, waktu dan bahkan jiwanya dijalan Allah Swt. Intuk mewujudkan itu semua di butuhkan semangat rela berkorban. Ibadah Qurban bukan hanya berhubungan dengan Allah Swt akan tetapi juga berhubungan langsung dengan manusia. Salah satu bentuk ibadah Qurban yang berhubungan langsung dengan manusia dapat dilaksanakan berupa menolong umat Islam yang sedang dilanda musibah. Ibadah yang dilakukan seimbang antara ibadah individu dengan ibadah sosial, terkadang ibadah sosial lebih tinggi nilai pahalanya dibandingkan dengan ibadah individu. Ibadah sosial dengan berbuat kebaikan untuk orang lain dan masyarakat akan dapat menutupi kekurangan ibadah individu. Karena ibadah ritual/individu itu mengenai qolbu seseorang, sedangkan ibadah sosial bersentuhan dan berhubungan langsung dengan masyarakat luas. Seperti peduli terhadap korban bencana alam yang acap kali melanda negeri kita. Pengorbanan yang seperti ini merupakan bukti nyata pengorbanan umat Islam melalui pengorbanan harta, tenaga, pikiran untuk meringankan beban umat Islam yang sedang ditimpa musibah.
Ketiga, Qurban juga menempah kita untuk memperoleh kesuksesan hidup. Untuk memperoleh kesuksesan hidup juga dibutuhkan pengorbanan. Manusia diciptakan Allah Swt, bukan untuk memperoleh kegagalan akan tetapi untuk memperoleh kesuksesan, baik sukses di dunia maupun sukses di akhirat. Manusia hanya dihadapkan kepada dua pilihan, memilih jalan untuk sukses atau malah memilih jalan kegagalan. Apapun harus rela dikorbankan demi tercapainya kesuksesan hidup. Bagi orang yang enggan untuk berkorban maka orang tersebut akan memperoleh kegagalan.
Ketiga makna Qurban tersebut dapat kita lihat pada kehidupan nabi Ibrahim As. Nabi Ibrahim As, begitu tega mengorbankan anaknya yang sebelumnya merupakan anak yang di tunggu-tunggu keberadaan dan kelahirannya. Dengan segala keikhlasan dan kasih sayang Ibrahim As merelakan anaknya untuk di sembelih, sesuai dengan perintah Allah Swt. Namun Allah Swt maha pengasih dan maha penyayang tidak bermaksud untuk mengorbankan manusia untuk diri-Nya. Tanpa sepengetahuan nabi Ibrahim As anaknya Ismail As yang hendak diqurbankan sudah diganti Allah Swt dengan seekor hewan Qurban. Hari raya Qurban tidak bisa dilepaskan dari sosok nabi Ibrahim As, sebab sebagaimana telah di jelaskan di awal bahwa sejarah Qurban berawal dari nabi Ibrahim As dan anaknya nabi Ismail As. Semoga saja melalui pelaksanaan ibadah Qurban kita dapat meneladani nabi Ibrahim As dan nabi Ismail As. 


Qurban dan Keteladanan Nabi Ibrahim As Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 comments: