Blog Informasi Apa Aja

18 Mei 2013

Karakteristik Alat Musik Gamelan

Gamelan di Indonesia tersebar tidak hanya di Jawa saja, melainkan di berbagai daerah lainnya seperti Bali dan lain-lain. Oleh karena kita ketahui bersama bahwa di Indonesia, daerah-daerah memiliki karakteristik, kekhasan sendiri-sendiri walaupun sama-sama sebut saja gamelan.
Baik gamelan Jawa maupun Bali dan daerah lainnya yang memiliki alat musik daerah yang serupa dengan gamelan, pada umumnya alat musik ini lebih banyak perkusinya. Gamelan Jawa Tengah dan juga Jawa Timur sebagai contoh, alat-alat musiknya antara lain : Saron, Bonang, Kenong, Kempul, Gender, Kendang, dan sebagainya.. Alat-alat tersebut semua dibunyikan dengan cara dipukul (perkusi). Gamelan Jawa Tengah termasuk Yogyakarta (DIY) juga Jawa Timur, mengenal dua jenis, yaitu Pelog dan Slendro.

1.      Gamelan Pelog
Secara lengkap gamelan pelog memiliki 7 nada (Yudoyono, 1984 : 17). Tetapi dilihat dari keseringan penggunaannya, gamelan Pelog ini memiliki nada pokok ada 5 (lima), makanya sering disebut pentatonic (penta : lima, tonic/tone : nada). Kelima nada pokok tersebut adalah : 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 5 (mo), 6 (nem). Sedangkan nada lainnya adalah : 4 (pat) dan 7 (pi). Kedua nada ini digunakan pada keperluan-keperluan tertentu sesuai dengan pathet (mirip dengan istilah musik umum : Nada Dasar).
Untuk membantu membayangkan bagaimana karakteristik nada-nada Pelog ini, “orang musik umum” sering menggunakan istilah : Kuasi (penyamaan dengan nada-nada musik umum : Diatonic). Jadi, “orang musik umum” menganggap sama (apabila deretan nada-nada gamelan Pelog : 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 5 (mo), 6 (nem) dibunyikan) dengan : 3 (mi), 4 (fa), 5 (sol), 7 (si), 1 (do).
Uniknya, Kuasi tersebut di atas dapat berubah kalau Pathetnya beda, walaupun sama-sama nada/laras 6 (nem) misalnya. Sementara itu, apabila dicek konsistensi frekuensinya tentu saja terkesan mengalami pemaksaan. Sebagai contoh, pada Pathet Barang, nada/laras 6 (nem) ini tidak lagi terkuasi menjadi 1 (do) lagi, melainkan : 4 (fa). Di sinilah uniknya lagi pada gamelan ini, pada pathet Barang ini tidak menggunakan nada/laras 1 (ji) di samping tidak juga menggunakan laras 4 (pat).. Pada pathet ini nada/laras lainnya terkuasi menjadi : 2 (ro) = 7 (si), 3 (lu) = 1 (do), 5 (mo) = 3 (mi), 6 (nem) = 4 (fa), 7 (pi) = 5 (sol).
Perhatikan kembali pada kuasi  sebelum contoh pada pathet barang ini. Dikatakan tidak konsisten dalam hal frekuensinya, karena mestinya apabila kuasi pertama 2 (ro) = 4 (fa) dan 3 (lu) = 5 (sol), maka bagi “orang musik umum” memastikan bahwa jarak dari not 4 (fa) ke 5 (sol) adalah 1 (satu), sedangkan pada pathet barang 2 (ro) menjadi 7 (si), 3 (lu) menjadi 1 (do), padahal jarak not 7 (si) ke 1 (do) adalah ½ (setengah). Apabila diukur frekuensinya, jarak ½ jelas berbeda dengan jarak 1. Uniknya, begitu menyanyi dengan lagu yang sama dengan pathet yang berbeda, perubahan fungsi nada terkuasi tersebut tidak benar-benar terasa bila mendengarkannya.

2.      Gamelan Slendro
Dilihat dari jumlah nadanya, Gamelan Slendro ini hanya memiliki nada 5 (lima). Jadi tidak memiliki nada lainnya lagi seperti pada gamelan pelog. Kelima nada-nada tersebut adalah : 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 5 (mo), 6 (nem) (Yudoyono, 1984 : 17).
Pada gamelan slendro ini, untuk membantu membayangkan bagaimana karakteristik nada-nadanya juga menggunakan Kuasi. Jadi, “orang musik umum” menganggap sama (apabila deretan nada-nada gamelan Slendro : 1 (ji), 2 (ro), 3 (lu), 5 (mo), 6 (nem) dibunyikan) dengan bunyi nada : 3 (mi), 5 (sol), 6 (la), 1 (do), 2 (re). Pada gamelan slendro juga ada pathet-pathet, dimana memiliki keunikan yang sama, untuk kuasinya, yaitu ketidak ajegan selisih frekuensi antar nadanya. Selisih frekuensi antar nada ini digambarkan pada system nada musik umum (di Indonesia khususnya) dengan sebutan : jarak atau ada yang menyebutnya : interval.

Karakteristik Alat Musik Gamelan Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 komentar: