Blog Informasi Apa Aja

28 Mei 2013

Pembelajaran Matematika Realistik



Pembelajaran Matematika Realistik (PMR) merupakan operasionalisasi dari suatu pendekatan pendidikan matematika yang telah dikembangkan di Belanda dengan nama Realistic Mathematics Education (RME) yang artinya pendidikan matematika realistik.

Pembelajaran matematika realistik pada dasarnya adalah pemanfaatan realitas dan lingkungan yang dipahami peserta didik untuk memperlancar proses pembelajaran matematika, sehingga mencapai tujuan pendidikan matematika secara lebih baik dari pada yang lalu. Yang dimaksud dengan realita yaitu hal-hal yang nyata atau kongret yang dapat diamati atau dipahami peserta didik lewat membayangkan, sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan adalah lingkungan tempat peserta didik berada baik lingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat yang dapat dipahami peserta didik. Lingkungan dalam hal ini disebut juga kehidupan sehari-hari.        

Ada tiga prinsip utama dalam pembelajaran matematika realistik ,yaitu :
a.       Guided reinvention / progressive mathematizing ( penemuan kembali / pematematikaan progresif  )
                        Prinsip ini menghendaki bahwa dalam pembelajaran matematika realistik , dari masalah kontekstual yang di berikan oleh guru diawal pembelajaran, kemudian dalam menyelesaikan masalah siswa di arahkan dan di beri bimbingan terbatas, sehingga siswa mengalami proses menemukan kembali konsep, prinsip, sifat – sifat dan rumus matematika itu di temukan. Sebagai sumber inspirasi untuk merancang pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran matematika realistikyang menekankan prinsip penemuan kembali, dapat di gunakan sejarah penemuan konsep / prinsip / rumus matematika.
b.      Didactical phenomenology ( fenomena pembelajaran )
                        Prinsip ini terkait dengan suatu gagasan fenomena pembelajaran, yang menghendaki bahwa di dalam menentukan suatu masalah kontekstual untuk di gunakan dalam pembelajaran dengan pendekatan pembelajaran matematika realistik, di dasarkan atas dua alasan, yaitu : ( 1 ) untuk mengungkapkan berbagai macam aplikasi suatu topik yang harus diantisipasi dalam pembelajaran dan ( 2 ) untuk di pertimbangkan pantas tidaknya masalah kontekstual itu digunakan sebagai poin – poin untuk suatu proses pematematikaan progresif.
c.       Self – develepod models ( model – model di bangun sendiri  )
                        Menurut prinsip ini, model – model yang di bangun berfungsi sebagai jembatan antara pengetahuan informal dan matematika formal. Dalam menyelesaikan kontekstual, siswa di beri kebebasan untuk membangun sendiri model matematika terkait dengan masalah kontekstual yang di pecahkan.
               Selanjutanya menurut Suherman,dkk ( 2001: 128 ) terdapat lima prinsip utama dalam kurikulum metematika realistik yaitu sebagai berikut :
1.      Didominasi oleh masalah-masalah dalam konteks, melayani dua hal sebagai sumber dan sebagai terapan konsep matematika;
2.      Perhatian diberikan pada pengembangan model-model, situasi, skema, dan simbol-simbol;
3.      Sumbangan dari para siswa, sehingga siswa dapat membuat pembelajaran menjadi konstruktif dan produktif, artinya siswa memproduksi sendiri dan mengkonstruksi sendiri (yang mungkin berupa algoritma, rule atau aturan), sehingga dapat membimbing para siswa dari level matematika informal menuju matematika formal;
4.      Interaktif sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika informal; dan
5.      Interwinning (membuat jalinan) antara topik atau antar pokok bahasan atau antar stand.

2.      Kelebihan dan Kerumitan Penerapan Pendekatan matematika Realistik

                              Beberapa kelebihan dari Pembelajaran Matematika Realistik  ( PMR ) antara lain sebagai berikut :
a.       PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa tentang keterkaitan antara matematika dengan kehidupan sehari – hari ( kehidupan dunia nyata ) dan keguanan matematika pada umumnya bagi manusia.
b.      PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional bahwa matematika adalah suatu bidang kajian yang di konstruksi dan di kembangkan sendiri oleh siswa tidak hanya oleh mereka yang di sebut pakar dalam bidang tersebut.
c.       PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa cara penyelesaian suatu soal atau masalahtidak harus tunggaldan tidak harus sama antara orang yang satu dengan yang lain. Setiap orang bisa menemukan atau menggunakan cara sendiri, asalkan orang itu bersungguh – sungguhdalam menyelesaikan soal atau masalah tersebut. Selanjutnya dengan membandingkan cara penyelesaian yang satu dengan cara penyelesaian yang lain, akan bisa di peroleh cara penyelesaian yang paling tepat, sesuai dengan proses penyelesaian soal atau masalah tersebut.
d.      PMR memberikan pengertian yang jelas dan operasional kepada siswa bahwa dalam mempelajari matematika, proses pembelajaran merupakan sesuatu yang utama dan untuk mempelajari matematika orang harus menjalani proses itu dan berusaha untuk menemukan sendiri konsep – konsep matematika, dengan bantuan pihak lain yang sudah lebih tahu ( misalnya guru ). Tanpa kemauan untuk menjalani proses tersebut, pembelajaran yang bermakna tidak akan terjadi.

                        Sedangkan beberapa kerumitan dalam penerapan pendekatan PMR antara lain sebagai berikut :
a.       Upaya mengimplementasikan PMR membutuhkan perubahan pandangan yang sangat mendasar mengenai berbagai hal yang tidak mudah untuk di praktekkan, misalnya mengenai siswa, guru dan peranan soal kontekstual. Di dalam PMR siswa tidak lagi di pandang  sebagai pihak yang mempelajari segala sesuatu yang sudah “ jadi ”, tetapi sebagai pihak yang aktif mengkonstruksi konsep – konsep matematika. Guru di pandang lebih sebagai pendamping siswa.
b.      Pencarian soal – soal kontekstual yang memenuhi syarat – syarat yang di tuntut PMR tidak selalu mudah untuk tiap topik matematika yang perlu di pelajari siswa, terlebih lagi karena soal – soal tersebut harus bisa di selesaikan dengan bermacam – macam cara.
c.       Upaya mendorong siswa agar bisa menemukan berbagai cara untuk menyelesaikan soal , juga bukanlah hal yang mudah bagi seorang guru.
d.      Proses pengembangan kemampuan berfikir siswa melalui soal – soal kontekstual, proses pematematikaan horisontal dan proses pematematikaan vertikal juga bukan merupakan sesuatu yang sederhana, karena proses dan mekanisme, berfikir siswa harus diikuti dengan cermat agar guru bisa membantu siswa dalam melakukan penemuan kembali terhadap konsep – konsep matematika tertentu.

      Walaupun pada pendekatan PMR terdapat kendala – kendala dalam upaya penerapannya, menurut peneliti kendala – kendala yang di maksud hanya bersifat sementara. Kendala – kendala itu akan dapat teratasi jika pendekatan PMR sering di terapkan. Hal ini sangat tergantung pada upaya dan kemauan guru, siswa dan personal pendidikan lainnya untuk mengatasinya. Menerapkan suatu pendekatan pembelajaran yang baru, tentu akan terdapat kendala – kendala yang di hadapi di awal penerapannya. Kemudian sedikit – sedikit, kendala itu akan teratasi jika sudah terbiasa menggunakannya.

Pembelajaran Matematika Realistik Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 komentar: