Blog Teknologi, Pendidikan, Informasi, Hiburan, Kesehatan, Islami dan Apapun Yang Bermanfaat

22 June 2013

Peran Keluarga Dalam Kompetisi Dan Teknologi Di Era Globalisasi




ABSTRAK
Era globalisasi adalah era persaingan dengan peradapan yang datang dari segala penjuru, karena itu bagi bangsa yang siap dengan sumber daya manusia yang unggul akan  bertahan bahkan akan mencapai kesuksesan.
Konsep sumber daya manusia yang berkualitas dalam keluarga, pada dasarnya  dapat di lihat pada  proses pendidikan dan pembentukan prilaku anggota keluarga,   dalam pencapaian pengetahuan melalui proses ajar mengajar.
Keluarga adalah kelompok masyarakat kecil yang karena adanya dorongan kebutuhan pembangunan serta kehidupan mengglobal, menjadi kelompok masyarakat pengguna hasil, yang hidup pada jaman kemajuan teknologi dalam era kompetisi.  

ABSTRACT
            Globalisation era is a competitive era with future civilization that comes from all of the world, therefore every nation must be ready with good human resources who can survive and manage to reach succesfull in their life.
Good quality  human sources concepts in families, basically can be seen in education process and behaviour building  in every family’s member in knowledge term through educational process
A family is a small group of society that becomes a user society because of development needs and global world, that lives in the growth of technology in competitive era.
 


PENDAHULUAN
Pelaksanaan pendidikan secara formal dalam masyarakat memberikan kepada dunia pendidikan suatu tanggung jawab untuk merangsang pertumbuhan kepribadian dan kemampuan melalui kegiatan yang terencana dengan sasaran tertentu.
Proses pembentukan sumber daya manusia (SDM) dapat dilakukan melalui pendidikan dalam keluarga yang akan membentuk prilaku dan kedisplinan anggota keluarga.
Oleh karena keluarga sebagai  kelompok masyarakat kecil yang hidup dalam   pembangunan serta kehidupan mengglobal, menjadi kelompok masyarakat pengguna hasil, antara lain, (a) produsen, (b) pelindung konsumen, (c) pemasar hasil dan/atau pengekspor, yang jika dikatakan bahwa era globalisasi adalah era persaingan dengan peradapan yang datang dari segala penjuru, maka keluarga sebagai kelompok masyarakat kecil, pengguna hasil  perlu siap dengan sumber daya manusia, yang unggul dan  bertahan bahkan mencapai kesukseksan.
Pemanfaatan  kemajuan teknologi di semua sektor, mengharuskan   proses pendidikan dan pembentukan prilaku anggota keluarga, mengetahui, memahami dan menyadari akan adanya kompetisi pengguna teknologi.
Kompetisi ada karena daya resources yang tersedia lebih sedikit dari yang dibutuhkan. Hal ini mengharuskan sumber daya manusia mampu menunjukkan keunggulannya dibandingkan yang lain.
Sikap objektif dalam keluarga merupakan kegiatan atau perilaku keluarga, yang dianggap sebagai suatu dorongan dan sebuah motivasi dalam  keluarga, dorongan yang terjadi karena desakan dari dalam yang tidak dipelajari dan tidak mempunyai arah khusus. Menjadi motivasi  jika diikuti unsur-unsur belajar dan pengalaman yang akan mempunyai arah untuk mencapai suatu tujuan. Peranan keluarga  pada dasarnya  dapat di lihat pada  proses pendidikan dan pembentukan prilaku anggota keluarga, dalam tanggung jawab, sebagai penguna anggota keluarga.
Tantangan ke depan dapat direpresentasikan dalam satu kata magis nan menyihir, kompetisi. Tidak usah berbicara dulu dalam lingkup global, dalam keseharian makna kompetisi selalu menghiasi kehidupan kita.
 Berapa ribu anak lulusan SLTP yang memperebutkan kursi-kursi di SLTA favorit di Makassar. Berapa ratus ribu lulusan SLTA yang memperebutkan kursi-kursi universitas negeri favorit yang memang jumlahnya sangat terbatas.
Berapa juta tenaga kerja lulusan sarjana yang berlomba-lomba mengejar lapangan pekerjaan yang layak. Ada yang sukses, namun jauh lebih banyak yang gagal. Itulah yang dinamakan kompetisi.
Kompetisi, suka atau tidak suka, telah menjadi bagian dalam kehidupan kita. Kompetisi ada karena daya resources yang tersedia lebih sedikit dari yang dibutuhkan. Hal ini mengharuskan SDM harus mampu menunjukkan keunggulannya dibandingkan yang lain.
Semua orang yang hidup mempunyai sifat keaktipan sendiri merubah tahanan tubuh sesuai dengan situasi dan kondisi tubuh pada pada saat itu. Cerita di atas akan semakin panjang dan terasa menakutkan bila konsep globalisasi kita masukkan dalam wacana permasalahan.
Globalisasi akan membuat dunia menjadi serasa ‘kampung besar’ tanpa batas ranah. AFTA, WTO, GATTS, APEC, dan perjanjian lainnya yang ditandatangani Pemerintah Indonesia membuat batasan negara kita semakin ‘meluas tanpa batas’ dengan segala macam implikasinya. Perjanjian AFTA memungkinkan seseorang warga  negara anggota ASEAN dapat bekerja di negara sesama anggota ASEAN lainnya. Produk-produk serta SDM dari negara-negara lain dengan mudah masuk dan tak terbendung membanjiri negara kita. Pasar di setiap negara mengalami proses internasionalisasi, ditandai dengan kompetisi antarpesaing dari berbagai bangsa dan negara. Setiap negara harus berlomba agar produk dan SDM-nya tetap laku. Di mana posisi kita? Bisakah kita ikut bermain kokoh di era globalisasi ataukah malah termarjinalkan? Bagaimana peranan keluarga dalam menyiapkan anak-anaknya agar dapat survive dalam era globalisasi?




 SIKAP  DAN TANTANGAN KE DEPAN
Kompetisi di masa depan dituntut untuk memiliki strategi inovatif dan senantiasa berorientasi pada produktivitas yang tinggi.  Untuk survive, SDM dituntut untuk memiliki tingkat profesionalisme yang tinggi, yang merupakan kesatuan utuh dari pengetahuan, keterampilan dan sikap yang baik.
Contoh kongkrit. Mengapa sebuah produk suatu bangsa dapat lebih unggul dibandingkan produk yang sama dari  bangsa lain? Harga yang murah? Boleh jadi. Tetapi banyak variabel yang lain.
Kualitas, efisiensi, ketepatan waktu produksi, ketepatan syarat secara teknis, kualitas pelayanan, dan keberlanjutan kontrak kerja merupakan variabel-variabel yang sangat menentukan. Semua ini hanya bisa dicapai oleh SDM yang memiliki tingkat profesionalisme yang tinggi.
Pengetahuan dan keterampilan dapat dicapai melalui proses ajar-mengajar, namun sikap disiplin, kerja keras dan tanggung jawab tidak bisa diajarkan sebagai pengetahuan.
Perubahan sikap hanya bisa dibentuk melalui praktek penerapan dalam jangka waktu yang panjang (bahkan mungkin harus dengan penegakan sanksi disiplin yang keras) dan untuk seterusnya akan menyatu dalam perilaku kesehariannya.
Prof. H.A.R. Tilaar, tokoh pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta, dalam bukunya yang berjudul “Paradigma Baru Pendidikan Nasional”,  menyatakan bahwa di dalam berbagai analisis mengenai trend kehidupan manusia dalam milenium ketiga mempunyai dimensi yang bukan hanya dimensi domestik tetapi juga dimensi global.  Aktivitas kehidupan sekarang demikian terbuka, menjadi dunia tanpa batas. Oleh karena itu, kehidupan global bukan hanya merupakan tantangan, tetapi juga membuka  peluang-peluang baru di dalam usaha meningkatkan taraf hidup masyarakat dan bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, tidak salah jika dikatakan bahwa era globalisasi adalah era kehancuran sekaligus sebagai era kemenangan. Kehancuran bagi bangsa yang tidak sanggup lagi bersaing dengan peradapan yang datang dari segala penjuru.
Sementara bagi bangsa yang siap dengan SDM unggul akan tetap bertahan mengibarkan bendera kemenangannya.
India, negara raksasa yang juga miskin, tiba-tiba meledak tingkat pertumbuhanan ekonominya dalam 15 tahun terakhir. India membangun perekonomiannya dengan mengandalkan teknologi tinggi terutama teknologi informasi (IT-based). Investasi utama India adalah pada perguruan tinggi dengan mendirikan institut-institut teknologi sekitar 50 tahun yang lalu.
Langkah India saat itu mendapat cemoohan para ahli pembangunan. Mereka skeptis atas pilihan India yang akhirnya menetapkan teknologi canggih sebagai strategi pembangunan.
 Mereka berhasil mengembangkan home-grown technology, dan dengan cerdas memasukkannya ke dalam sistem ekonomi. India, yang kini telah memiliki lembaga pendidikan tinggi kelas dunia, hanya dalam 10 tahun (1990-2001) berhasil mengurangi kemiskinan dari 42% menjadi 35% (KOMPAS, 24 November 2005). Sebagai contoh terakhir, akan dipaparkan China.
Pemimpin China, Deng Xiaoping pada tahun 1978 mengatakan, “Bila China ingin memodernisasikan pertanian, industri, dan pertahanan, maka yang harus dimodernisasikan lebih dulu adalah sains dan teknologi dan menjadikannya kekuatan produktif!” (Ke Yan, Science and Technology in China, 2004).  Negara China tumbuh menjadi negara dengan tingkat pertumbuhan ekonominya paling sukses di dunia dengan kecenderungan yang terus meningkat.
Peran terpenting pada proses itu adalah pemanfaatan teknologi. Dengan kata lain, pembangunan di China berbasiskan sains dan teknologi. China berhasil mengurangi kemiskinan penduduknya lebih dari satu miliar dalam 20 tahun terakhir ini.
Jepang, India, China, dan banyak negara-negara lain (yang berpotensi ingin lebih maju), tampaknya tahu dan mengikuti pola evolusi/revolusi yang telah banyak ditulis para ahli sejarah, filsafat, sosiologi, sains dan teknologi dunia, di mana sejak akhir renaisans lebih kurang 500-an tahun lalu, dunia mengalami revolusi sains lebih dulu, disusul revolusi  teknologi dan industri, baru terakhir mendongkrak revolusi ekonomi. Kini, keempat unsur ini telah kait-mengait tanpa sambungan.
PERANAN MASYARAKAT DAN KELUARGA
Pertanyaannya, mengapa Indonesia tidak terdorong mengikuti jejak negara lain yang ternyata telah berhasil membangun bangsanya melalui pendidikan meski UUD 1945 telah memberikan arah sekaligus dasar politis yang sangat kuat?
Tampaknya sulit untuk mengandalkan peranan tunggal pemerintah dalam sektor pendidikan. Telah banyak konsep-konsep yang diajukan untuk memajukan sektor ini, namun kendala dana yang terbatas (hanya 1,4%  PDB, paling rendah  di antara negara Asia), membuat konsep-konsep ini jauh dari goal yang diharapkan. (KOMPAS, 14 Januari 2006).
Pendidikan adalah wahana masa depan yang merupakan proses investasi jangka panjang.  Pemerintah tampaknya belum berani ‘berspekulasi’ mengalokasikan anggaran minimal 20% untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional sebagaimana yang tertulis jelas pada pasal 31 ayat 4 UUD 1945.
Wardiman Djojonegoro mencoba memberikan landasan konsep dasar pendidikan nasional dan ketenagakerjaan dalam menghadapi era globalisasi untuk mendapatkan manusia unggul bersumberdaya dalam tulisannya di Harian Pelita, 28 September  1995, dengan judul Pengembangan Kualitas Sumber Daya Manusia Menghadapi Era Persaingan Global 2020.  
Belum lama ini kita dikagetkan dengan berita dari dunia pendidikan, begitu mengetarkan. Pertama,  hampir separuh dari lebih kurang 2,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar. Kualifikasi dan kompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar di sekolah. Yang tidak layak mengajar berjumlah 912.505 guru. Terdiri dari 605.217 guru SD, 167.643 guru SMP, 75.684 guru SMA, dan 63.961 guru SMK.
Hal menarik, seperti yang dikemukakan oleh Prof. Nanang Fatah, yaitu bahwa pada uji kompetensi Matematika, dari 40 pertanyaan rata-rata hanya 2 pertanyaan yang diisi dengan benar.  Pada mata pelajaran Bahasa Inggris hanya satu yang diisi dengan benar oleh guru-guru yang berlatar belakang pendidikan Bahasa Inggris. Kedua, tercatat 15 persen guru mengajar tidak sesuai dengan bidang keahlian yang dipunyainya (KOMPAS, 9 Desember 2005).
Berapa banyak peserta didik yang mengenyam pendidikan dari guru-guru tersebut? Bencana untuk dunia pendidikan? Mungkinkah pendidik menjadi profesional?
Sementara banyak orang berkomentar,  “Rendahnya kualitas SDM, lulusan pendidikan formal sekarang, dikarenakan oleh rendahnya kualitas pengajar pendidiknya”. Apakah cukup adil jika hanya pendidik yang harus berdiri tegak menopang kualitas pendidikan?  Tentunya jawaban rasionalnya mengatakan: TIDAK!.  Namun sayangnya, hanya sedikit yang menyadari bahwa rendahnya kualitas SDM sekarang lebih dikarenakan kurangnya perhatian dan partisipasi dari orang tua, pemerintah, dan masyarakat sebagai kelompok masyarakat kecil.
Sekaranglah saatnya masyarakat (dan keluarga) harus mengambil peran dengan lebih serius. Ibarat sebuah film, masyarakat tidak boleh hanya menjadi  peran figuran, namun harus mengambil posisi pemeran utama sebagai salah satu penentu kesuksesan film tersebut.  Apalagi kita harus mengingat bahwa proses pembentukan SDM dapat dilakukan melalui pendidikan formal dan non formal.
 Pengetahuan dan ketrampilan dapat diperoleh dari pendidikan formal, namun sikap disiplin, suka bekerja keras, dan memiliki rasa tanggung jawab lebih banyak terpupuk dari pendidikan non formal yang dilakukan dalam kehidupan bermasyarat. Tentunya peranan ini harusnya lebih menyadarkan masyarakat (dan keluarga) untuk lebih aktif dalam mencari solusi dalam kompetisi di era globalisasi.










D. PENUTUP
Sebagai akhir dari tulisan ini perlu ditegaskan kembali bahwa peranan keluarga dalam kompetisi di era globalisasi melalui pendidikan non formal dalam keluarga, akan membentuk prilaku anggota keluarga.
Karena Pendidikan adalah wahana masa depan yang merupakan proses investasi jangka panjang, maka pemerintah  pada pasal 31 ayat 4 UUD 1945, sudah mengalokasikan anggaran minimal 20% untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Selanjutnya bahwa sebagai aset, orang tua harus berupaya terus mengembangkan dan meningkatkan potensi yang dimiliki si anak. Tidak hanya berpangku tangan, melainkan sudah saatnya keluarga  turut serta memajukan sumber daya manusia  guna memenangkan kompetisi di era globalisasi.
Kompetisi memanfaatkan kemajuan teknologi, mendorong dunia pendidikan semakin meningkatkan sumber daya manusia, dalam wahana masa depan yang merupakan proses investasi jangka panjang.  

DAFTAR PUSTAKA
Nana sudjana & Ibrahim. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung; Sinar Baru Algesindo

Nana Syaodih Sukmadinata.1997.Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung; PT Remaja Rosdakarya.

Nashir Ali. 1992. Dasar-Dasar Ilmu Mendidik. Jakarta; Kalam mulia.
Made Pidarta. 1988. Perencanaan Pendidikan Partisipatori dengan Pendekatan System. Jakarta; Rineka Cipta
Hasan,Said Hamid. 2000. “Pengembangan Kurikulum Berbasis Masyarakat” Makalah Seminar Nasional Pengembangan Program Pendidikan Berbasis Kewilayahan Menyongsong Diterapkannya Otonomi Daerah, 31 Agustus 2000, Bandung: UPI.

Tillar. H.A.R. 1999. Beberapa Agenda Reformasi Pendidikan Nasional Dalam Perspektif Abad 21. Magelang: Tera Indonesia.

Peran Keluarga Dalam Kompetisi Dan Teknologi Di Era Globalisasi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 comments: