Blog Teknologi, Pendidikan, Informasi, Hiburan, Kesehatan, Islami dan Apapun Yang Bermanfaat

20 July 2013

Penerapan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam Meningkatkan Kreativitas Siswa



Kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar perlu dirancang dan dikelola yang berorientasi pada pengembangan potensi kreativitas anak. Ketika siswa masih berada pada level yang bawah, seharusnya mulai mengkondisikan dirinya untuk meningkatkan kemampuan kreatifnya tanpa harus menunda-nundanya. Oleh karenanya guru dituntut bertanggung jawab unuk menjadi fasilitator dan pembimbing dalam mengajar dan memanaj kelas. Treffinger (1980) mengemukakan sejumlah pengalaman belajar yang dapat dikembangkan oleh guru, agar memiliki kekuatan untuk mengembangkan kreativitas anak yaitu :
Pertama, menciptakan tugas yang dikehendaki anak-anak, sehingga memungkinkan anak-anak mampu menunjukkan keterlibatan personal yang tinggi. Apabila mereka merasa terlibat dalam penciptaan tugas itu, kiranya mereka dapat menyelesaikannya dengan penuh antusias.
Kedua, kegiatan pembelajaran hendaknya dilandasi oleh rasa ingin tahu siswa (Curiosity), oleh karenanya dalam mengembangkan segala pengalaman belajar hendaknya didasarkan pada minat dan kepedulian anak, lebih konkritnya hendaknya lebih dilandasi dengan motif intrinsik anak.
Ketiga, penciptaan proses pembelajaran hendaknya memungkinkan anak-anak dapat mengembangkan sensitivitasnya terhadap berbagai masalah dan tantangan. Dalam kondisi demikian, kemampuan melakukan diagnosis perlu dikembangkan.
Keempat, kegiatan pembelajaran yang perlu ditegakkan adalah pengalaman belajar yang memberikan kelonggaran bagi anak untuk melakukan elaborasi dalam berfikir dan pengembangan kemampuan berfikir divergen, sehingga siswa  tidak terbiasa dihadapkan pada satu jawaban benar setiap menjumpai persoalan, melainkan mereka akan terkondisikan dalam kehidupan yang selalu mempertimbangkan berbagai ide yang berbeda dan kemungkinan alternatif jawaban terhadap setiap persoalan.
Kelima, selama proses pembelajaran hendaknya dihindari perilaku judgmental dari guru, sebaiknya perlu dikembangkan sikap apresiatif. Evaluasi terhadap anak hendaknya dikembangkan standar yang didasarkan pada tugas dan tujuan serta kemampuan anak, sehingga evaluasi lebih bersifat secara personal. Dengan kata lain untuk kegiatan evaluasi perlu dihindari adanya standar eksternal yang sepenuhnya ditentukan subyektivitas guru.
Keenam, pengalaman belajar yang diberikan kepada siswa, hendaknya memungkinkan siswa bebas melakukan eksperimen, jika perlu anak dalam melakukan kegiatan eksperimen seharusnya berkali-kali sesuai dengan kebutuhan.
Ketujuh, kegiatan pembelajaran yang positif diharapkan dapat memberikan kesempatan yang banyak bagi para siswa untuk menentukan pilihannya sendiri. Selanjutnya mereka dapat merumuskannya secara menarik dan menyenangkan sehingga alternatif solusi itu tidak hanya menyenangkan dirinya saja, melainkan bermanfaat bagi orang lain.
Kedelapan, selama proses pembelajaran anak-anak perlu sekali dihadapkan kepada persoalan riil dalam kehidupan sehari-hari. Adapun hasil pemecahan tersebut didiskusikan kepada orang lain, terutama produk-produk kreatif.
Graham Wallas (Semiawan, 1998: 66 – 67) menjelaskan tentang tahap-tahap dalam proses pembelajaran kreativitas berlangsung sebagai berikut :
a.       Tahap pertama yaitu  persiapan (Preparation).
Pada tahap ini ide itu datang dan timbul dari berbagai kemungkinan. Namun biasanya ide itu berlangsung dengan hadirnya suatu keterampilan, keahlian, ilmu pengetahuan tertentu sebagai latar belakang atau sumber darimana ide itu lahir.
b.      Tahap kedua yaitu inkubasi (incubation).
Dalam ilmu kedokteran masa ini inkubasi menunjukan pada masa pengerapan suatu penyakit. Dalam pengembangan kreativitas, pada masa ini diharapkan hadirnya suatu pemahaman serta kematangan terhadap ide yang tadi timbul (setelah dieram). Berbagai tehnik menyegarkan dan meningkatkan kesadaran itu, seperti meditasi, latihan peningkatan kreativitas, dapat dilangsungkan untuk memudahkan perembetan, perluasan, dan pendalaman ide.
c.       Tahap Ketiga yaitu iluminasi (illumination)
Suatu tingkat saat inspirasi yang tadi diperoleh, dikelola, digarap, kemudian menuju kepada pengembangan suatu hasil (product development). Pada masa ini terjadi komunikasi terhadap hasilnya dengan orang yang signifikan  (yang penting) bagi penemu, sehingga hasil yang telah dicapai dapat lebih disempurnakan lagi.
d.      Tahap keempat yaitu verifikasi (verification)
Perbaikan dari perwujudan hasil dan tanggung jawab terhadap hasil menjadi tahap terakhir dari proses ini. Diseminasi dari perwujudan karya kreatif untuk diteruskan kepada masyarakat yang lebih luas terjadi setelah perbaikan dan penyempurnaan pada karyanya itu berlangsung

Selain daripada itu selama kegiatan pembelajaran, guru diharapkan dapat menyajikan meteri pelajaran, menyiapkan berbagai media, serta menggunakan pendekatan pembelajaran yang memungkinkan posisi anak didik yang tepat, sehingga semuanya mampu mendukung pengembangan kreativitas siswa.
Pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan salah satu pendekatan mengajar dalam pembelajaran Sains di sekolah dasar, dan erat kaitannya dalam pengembangan dan peningkatan kreativitas siswa memahami konsep dan prinsip Sains di sekolah dasar,  Sejalan dengan itu Elaine (2006: 216) mengemukakan bahwa CTL melatih anak berfikir kreatif menghubungkan sesuatu yang tampak tidak berhubungan sehingga menemukan pola baru dalam berfikir.
Selain itu juga Sofyan dan Amiruddin (2007: 17) mengemukakan bahwa seorang guru dalam menerapkan pembelajaran kontekstual di kelas dan erat kaitannya dalam meningkatkan kreativitas siswa dalam memahami materi pelajaran yang akan diajarkan, guru harus melakukan hal-hal sebagai berikut:
1.      Kembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya (komponen konstruktivisme)
2.      Laksanakan kegiatan menemukan sendiri untuk mencapai kompetensi yang diinginkan (komponen inquiry)
3.      Kembangkan sifat ingin tahu peserta didik dengan bertanya (komponen bertanya)
4.      Ciptakan masyarakat belajar, kerja kelompok (komponen masyarakat belajar)
5.      Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran (komponen pemodelan)
6.      Lakukan refleksi di akhir pertemuan, agar peserta didik merasa bahwa hari ini mereka belajar sesuatu (komponen refleksi).
Beranjak dari langkah-langkah pembelajaran kreativitas dan komponen pembelajaran kontekstual yang telah dikemukakan sebelumnya. Nurhadi (2003: 59) memodifikasi suatu model pembelajaran dalam meningkatkan kreativitas siswa terhadap pembelajaran IPA dengan menggunakan pendekatan pembelajaran kontekstual yakni sebagai berikut :
Tabel.   Pembelajaran Kontekstual Berbasis Masalah dalam Meningkatkan Kreativitas Siswa.

Tahapan
Kegiatan Guru
Tahap 1 :
Orientasi siswa kepada masalah
1.    Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
2.    Menjelaskan perangkat yang dibutuhkan.
3.    Memotivasi siswa agar terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
Tahap 2 :
Mengelola pengetahuan awal siswa terhadap masalah.
1.    Guru mendorong siswa untuk mengemukakan pengetahuan awal yang dimilikinya terhadap masalah, kemudian pengetahuan awal siswa tersebut dijadikan acuan untuk menyelidikinya
2.    Guru memotivasi siswa dalam membangun pengetahuan siswa dari pengalaman baru berdasarkan pada pengetahuan awal. (Konstruktivisme)
3.    Guru mengemukakan pertanyaan yang mengacu pada pengembangan kreativitas berfikir siswa yang berhubungan dengan masalah dengan mengaitkan antar masalah dengan kenyataan yang ada dilingkungan siswa. (questioning)
4.    Guru mendorong siswa untuk mengemukakan ide atau gagasan terhadap pemecahan masalah yang akan dilakukan

Tahapan
Kegiatan Guru
Tahap 3 :
Mengorganisasikan, serta membimbing penyelidikan individual dan kelompok
1.    Membimbing siswa secara individu maupun dalam kelompok-kelompok belajar dalam mengatasi masalah. (learning community)
2.    Guru membimbing siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai melalui observasi dan eksperimen dengan mengaitkan antara masalah dengan konteks keseharian siswa sehingga dari mengamati siswa dapat memahami masalah tersebut (inquiri)
Tahap 4 :
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah
1.    Guru membantu siswa melakukan refleksi terhadap proses pemecahan masalah yang dilakukan. (refleksi)
2.    Guru mengukur dan mengevaluasi penyelidikan siswa dan proses-proses yang mereka gunakan. (authentic assessment)
Tahap 5 :
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video dan model baik secara individual maupun kelompok terhadap proses pemecahan masalah yang telah dilakukan. (pemodelan)
                Sumber : (Nurhadi, 2003: 59, dimodifikasi sesuai kebutuhan)

 
Referensi :
Treffinger, D.J. 1980. Encouraging Creative Learning For the Talented : Handbook of Methods and Tehniques. Ventura Califonia: County Superintendent of School Office.
Semiawan R. Conny. 1998. Dimensi Kreatif dalam Filsafat Ilmu.  Bandung: Remaja Rosda Karya.
Johnson B. Elaine. 2006, Contextual Teaching and Learning. Bandung: ML
Sofyan, Gusarmin dan Amiruddin B. 2007. Modul Diklat Profesi Guru Model-Model Pembelajaran I. Kendari:  Universitas Haluoleo 
Nurhadi, dkk. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.

 

Penerapan Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam Meningkatkan Kreativitas Siswa Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 comments: