Blog Teknologi, Pendidikan, Informasi, Hiburan, Kesehatan, Islami dan Apapun Yang Bermanfaat

17 July 2013

Pengertian Pembelajaran Kooperatif

Pembelajaran kooperatif menurut Davitson dan Kroll (dalam Asma, 2006: 11) adalah “kegiatan yang berlangsung di lingkungan belajar siswa dalam kelompok kecil yang saling berbagi ide-ide dan bekerjasama secara kolaboratif untuk memecahkan masalah-masalah yang ada pada tugas siswa”. Kemudian Kuachak dan Eggen (dalam Ratumanan, 2002: 107) menyatakan bahwa “belajar kooperatif merupakan suatu kumpulan strategi mengajar yang digunakan siswa untuk membantu satu dengan yang lain dalam mempelajari sesuatu”. Selanjutnya Slavin (dalam Ratumanan, 2002: 107) menyatakan bahwa “pembelajaran kooperatif siswa bekerjasama dalam kelompok kecil saling membantu untuk mempelajari suatu materi”. Hal ini serupa dengan yang diungkapkan Thomson dan Smith (Ratumanan, 2002: 107), yakni “dalam pembelajaran kooperatif, siswa bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk mempelajari materi akademik dan keterampilan antara pribadi”.

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat dikatakan bahwa belajar kooperatif adalah metode belajar dimana siswa belajar dalam kelompok kecil, saling berbagi ide-ide dan membantu untuk memahami dalam belajar, sekaligus masing-masing bertanggungjawab pada aktivitas belajar anggota kelompoknya dengan tujuan mencapai prestasi belajar tinggi. Dalam belajar kooperatif belum selesai jika masih ada salah satu anggota kelompoknya belum menguasai materi.

Di kelas pembelajaran kooperatif dibentuk dalam beberapa kelompok kecil yang terdiri atas 4-5 orang siswa. Dalam pembentukan kelompok kecil ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru yaitu adanya perbedaan kemampuan akademik seperti berkemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Selain itu pula, perbedaan suku, ras, agama, budaya, dan jenis kelamin. Hal ini sejalan dengan pendapat Ratumanan (2002: 12) yang menyatakan bahwa “di dalam pembelajaran kooperatif kelas disusun atas kelompok-kelompok kecil, biasanya terdiri atas 4-5 siswa dengan kemampuan  akademik yang berbeda, perbedaan suku dan jenis kelamin”. Selanjutnya Asma (2006: 12) menyatakan bahwa:

Banyak anggota suatu kelompok dalam belajar kooperatif, biasanya terdiri dari empat sampai lima orang siswa dimana anggota kelompok yang terbentuk diusahakan heterogen berdasarkan perbedaan kemampuan akademik, jenis kelamin dan etnis.

Dalam belajar kooperatif siswa tetap berada dalam kelompoknya selama proses pembelajaran berlangsung untuk beberapa pertemuan. Dalam pembelajarannya diperlukan keterampilan-keterampilan khusus yang disebut keterampilan kooperatif yang berfungsi untuk melaksanakan pembelajaran dengan baik dan melancarkan peranan hubungan kerja dan tugas. Peranan hubungan kerja dapat dibangun dengan mengembangkan komunikasi antara anggota kelompok, sedangkan peranan tugas dilakukan dengan membagi tugas antar anggota kelompok dengan memberikan lembaran kerja yang berisi tugas dan pertanyaan yang direncanakan untuk diajarkan. Kegiatan pembelajaran dengan belajar kooperatif dilakukan oleh guru dan siswa.

Menurut Laundren (dalam Ratumanan, 2002: 111) “keterampilan-keterampilan kooperatif tersebut  terdiri atas 3 tingkatan yaitu keterampilan kooperatif tingkat awal, keterampilan kooperatif tingkat menengah dan keterampilan kooperatif tingkat tinggi”.

a. Keterampilan kooperatif tingkat awal, yaitu: menggunakan kesepakatan, menghargai kontribusi, menggunakan suara pelan, mengambil giliran dan berbagi tugas, berada dalam kelompok dan tugas, mendorong partisipasi, mengundang orang lain untuk bicara, menyelesaikan tugas tepat waktunya, menyebut nama dan memandang pembicara, mengatasi gangguan, menolong tanpa memberikan jawaban, menghormati perbedaan individu.
b.  Keterampilan kooperatif tingkat menengah, yaitu: menunjukkan penghargaan dan simpati, menggunakan pesan “saya”, mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan cara yang sopan, mendengarkan dengan aktif, bertanya, membuat ringkasan, menafsirkan, mengatur dan mengorganisir, memeriksa ketepatan, menerima tanggungjawab, menggunakan kesabaran, tetap tenang.
c. Keterampilan kooperatif tingkat mahir, antara lain: mengolaborasi, memeriksa dengan cermat (probing), menanyakan untuk justifikasi, menganjurkan suatu posisi, menetapkan tujuan, berkompromi, menghadapi masalah khusus.

Menurut Ibrahim (dalam Masniladevi, 2004: 18) kegiatan guru dalam pembelajaran kooperatif terdapat enam langkah-langkah utama yaitu
(1) pembelajaran dimulai dengan guru menyampaikan tujuan pelajaran dan memotivasi siswa untuk belajar, (2) penyajian informasi dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan, (3) siswa dikelompokan ke dalam tim-tim belajar, (4) bimbingan guru pada saat siswa bekerja bersama untuk menyelesaikan tugas mereka, (5) evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari, dan (6) memberikan penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok maupun individu. 

Sedangkan kegiatan siswa dalam pembelajaran dengan belajar kooperatif  ada beberapa langkah (Asma, 2006: 12) yaitu:
a) siswa mengikuti penjelasan guru secara aktif, b) menyelesaikan tugas-tugas dalam kelompok, c) memberikan penjelasan dengan teman kelompoknya, d) mendorong teman kelompoknya untuk berpartisipasi aktif, dan e) berdiskusi antara anggota kelompok.

Lebih lanjut Bennet dan Jacobs (dalam Asma, 2006: 17) menjelaskan ”unsur-unsur yang terdapat dalam pembelajaran kooperatif adalah saling ketergantungan secara positif, tanggungjawab individu, pengelompokan secara heterogen, keterampilan kolaboratif, memproses interaksi kelompok, interaksi tatap muka”.

  Slavin (dalam Asma, 2006: 22) mengemukakan “tiga konsep utama yang menjadi karakteristik belajar kooperatif yaitu: penghargaan kelompok, pertanggungjawaban individu, dan kesempatan yang sama untuk berhasil”. Lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut:
a. Penghargaan kelompok diperoleh jika kelompok mencapai skor sesuai kriteria yang ditentukan.
b. Pertanggungjawaban individu. Keberhasilan kelompok tergantung pada pertanggungjawaban secara individu dari semua anggota kelompok.
c. Kesempatan yang sama untuk berhasil. Belajar kooperatif menggunakan metode pengskoran untuk menentukan skor perkembangan individu. Skor perkembangan ini berdasarkan pada peningkatan skor tes yang diperoleh siswa dari tes yang terdahulu. 

Menurut Asma (2006: 12) pengembangan pembelajaran kooperatif bertujuan “untuk mencapai hasil belajar, penerimaan terhadap keragaman dan pengembangan keterampilan sosial”. Lebih lanjut dijelaskan sebagai berikut:
a.   Pencapaian hasil belajar.
Pembelajaran kooperatif dapat memberikan keunggulan pada siswa yang bekerja sama menyelesaikan tugas-tugas akademik, baik kelompok bawah maupun kelompok atas. Siswa kelompok atas menjadi tutor bagi siswa kelompok bawah. Dalam proses tutor ini siswa kelompok atas meningkatkan kemampuan akademiknya karena memberikan pelayanan sebagai tutor kepada teman sebaya yang membutuhkan pemikiran lebih mendalam tentang hubungan ide-ide yang terdapat di dalam materi tertentu.
b.   Penerimaan terhadap perbedaan individu.
Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berlatar belakang dan kondisi untuk saling tergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, serta belajar menghargai temannya.
c.    Pengembangan keterampilan sosial.
Keterampilan kerjasama dan kolaboratif amat penting untuk dimiliki di dalam masyarakat, banyak kerja orang dewasa dilakukan dalam organisasi yang tergantung satu sama lain dalam masyarakat meskipun beragam budayanya.

Kelebihan belajar secara kooperatif menurut pendapat Hill, 1993 (dalam Masniladevi, 2003: 7) adalah sebagai berikut:
(1) meningkatkan prestasi siswa, (2) memperdalam pemahaman siswa, (3) menyenangkan siswa, (4) mengembangkan sikap kepemimpinan, (5) mengembangkan sikap positif siswa, (6) mengembangkan sikap menghargai diri sendiri, (7) membuat belajar secara inklusif, (8) mengembangkan rasa saling memiliki, dan (9) mengembangkan keterampilan untuk masa depan.

            Dalam pelaksanaanya pembelajaran kooperatif terdapat 5 prinsip (Asma, 2006: 14), yaitu: “prinsip siswa belajar aktif (student active learning), belajar kerjasama (cooperative learning), pembelajaran partisipatorik, mengajar reaktif (reactive teaching), dan pembelajaran yang menyenangkan (joyfuull learning)”. 

Sumber :
Asma, Nur. 2006. Model Pembelajaran Kooperatif. Jakarta: Depdiknas.
Ratumanan, T.G. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Surabaya: Unesa University Press.
Masniladevi. 2003. Keefektifan Belajar Kooperatif Model STAD (students teams- achienvement divisioan) pada Penjumlahan Pecahan Pecahan di Kelas IV SD Negeri Sumbersari III Kota Malang. Tesis. Malang: Universitas Negeri Malang.

Pengertian Pembelajaran Kooperatif Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 comments: