Blog Teknologi, Pendidikan, Informasi, Hiburan, Kesehatan, Islami dan Apapun Yang Bermanfaat

29 August 2013

Konsep Dasar Bimbingan Dan Konseling


  • 1.Pengertian Bimbingan dan Konseling.
    Bimbingan dan konselig merupakan dua istilah yang sering dirangkaikan bagaikan kata majemuk. Banyak ahli berusaha merumuskan pengertian bimbingan dan konseling .
    Menurut Jones (1963), guidance is the help given by one person to another in making choice and adjustments and in solving problems. Dalam pengertian tersebut terkandung maksud bahwa tugas pembimbing hanyalah membantu agar individu yang dibimbing mampu membantu dirinya sendiri, sedangkan keputusan terakhir tergantung kepada individu yang dibimbing.
    Ini senada dengan pengertian bimbingan yang dikemukakan oleh Rochman Natawidjaja (1978):
    Bimbingan adalah proses pemberian bantuan kepada individu yang dilakukan secara berkesinambungan, supaya individu tersebut dapat memahami dirinya sehingga ia sanggup mengarahkan diri dan dapat bertindak wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan keluarga serata masyarakat. Dengan demikian dia dapat mengecap kebahagiaan hidupnya serta dapat memberikan sumbangan yang berarti.
    Selanjutnya Bimo Walgito (1982:11) menyarikan beberapa rumusan bimbingan yang dikemukaka para ahli, sehingga mendapatkan rumusan sebagai berikut:
    ”Bimbingan adalah bantuan atau pertolongan yang diberikan kepada individu atau sekumpulan individu-individu dalam menghindari atau mengatasi kesulitan-kesulitan di dalam kehidupannya, agar individu atau sekumpulan individu-individu itu dapat mencapai kesejahteraan hidupnya”
    Pengertian Konseling diartikan sebagai penyuluhan. Menurut beberapa ahli kata konseling lebih tepat digunakan dalam kegiatan bimbingan karena sifatnya lebih khusus, tidak sama dengan kegiatan penyuluhan lainnya seperti dalam bidang pertanian dan penyuluhan dalam keluarga berencana. Untuk menekankan kekhususannya itulah maka dipakai istilah Bimbingan dan konseling.
    Banyak ahli memberikan makna tentang konseling.
    Menurur James P. Adam yang dikutip oleh Depdikbud (1976):
    ”Konseling adalah suatu pertalian timbal balik antara dua orang individu dimana yang seorang (konselor) membantu yang lain (konseling) supaya dia dapat lebih baik memahami dirinya dalam hubungannya dengan masalah hidup yang dihadapinya pada waktu itu dan pada waktu yang akan dating”.
     Bimo Walgito (1982: 11) menyatakan bahwa konseling adalah bantuan yang diberikan kepada individu dalam memecah kan masalah kehidupannya dengan wawancara, dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan individu yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.
    Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapatlah dikatakan bahwa kegiatan konseling itu mempunyai cirri-ciri sebagai berikut:
    a). Pada umumnya dilaksanakan secara individual.
    b). Pada umumnya dilakukan dalam suatu perjumpaan tatap muka.
    c). Untuk pelaksanaan konseling dibutuhkan orang yang ahli.
    d).Tujuan pembicaraan dalam proses konseling ini diarahkan untuk memecahkan masalah yang dihadapi klien.
    e).Individu yang menerima layanan (klien) akhirnya mampu memecahkan masalahnya dengan kemampuannya sendiri.

    2. Peranan Bimbingan dan konseling dalam Pendidikan di Sekolah
    Bimbingan dan konseling sangat perlu keberadaannya disetiap sekolah. Hal ini didukung oleh berbagai macam faktor, seperti dikemukakan oleh Koestoer Partowisastro (1982), sebagai berikut:
    1). Sekolah merupakan lingkungan hidup kedua sesudah rumah, di mana anak      dalam waktu sekian jam hidupnya berada di sekolah.
    2). Para siswa yang usianya relatif masih sangat membutuhkan bimbingan baik dalam memahami keadaan dirinya, mengarahkan dirinya, maupun dalam mengatasi berbagai macam kesulitan.  

    3. Tujuan Bimbingan di Sekolah
    Layanan bimbingan sangat dibutuhkan agar siswa-siswa yang mempunyai masalah dapat terbantu, sehingga mereka dapat belajar lebih baik. Dalam kurikulum SMA tahun 1975 Buku III C dinyatakan bahwa tujuan bimbingan di sekolah adalah membantu:
    1). Mengatasi kesulitan dalam belajarnya, sehingga memperoleh prestasi belajar yang tinggi.
    2). Mengatasi terjadinya kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik yang dilakukannya pada saat proses belajar-mengajar berlangsung dan dalam hubungan sosial.
    3). Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan kesehatan jasmani.
    4). Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan kelanjutan studi.
    5). Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan perencanaan dan pemilihan jenis pekerjaan setelah mereka tamat.
    6). Mengatasi kesulitan-kesulitan yang berhubungan dengan masalah sosial-emosional di sekolah yang bersumber dari sikap murid yang bersangkutan terhadap dirinya sendiri, terhadap lingkungan sekolah,keluarga, dan lingkungan yang lebih luas.

    4. Peranan Bimbingan dan Konseling
    Siswa yang mengalami kesulitan belajar kadang-kadang ada yang mengerti bahwa dia mempunyai masalah tetapi tidak tahu bagaimana mngatasinya, dan ada juga yang tidak mengerti kepada siapa ia harus meminta bantuan dalam menyelesaikan masalahnya itu.
    Dalam kondisi sebagaimana dikemukaan di atas, maka bimbingan dan konseling dapat memberikan layanan dalam: (1) bimbingan belajar, (2) bimbingan sosial, dan (3) bimbingan dalam mengatasi masalah-masalah pribadi.  

    5. Landasan Bimbingan dan Konseling
    Menurut Winkel (1991) landasan-landasan itu adalah sebagai berikut:
    1). Bimbingan selalu memperhatikan perkembangn siswa sebagai individu yang mandiri dan mempunyai potensi untuk berkembang.
    2). Bimbingan berkisar pada dunia subjektif masing-masing individu.
    3). Kegiatan bimbingan dilaksanakan atas dasar kesepakatan antara pembimbing dengan yang dibimbing.
    4).Bimbingan berlandaskan pengakuan akan martabat dan keluhuran individu yang dibimbing sebagai manusia yang mempunyai hak-hak asasi (human rights).
    5).Bimbingan adalah suatu kegiatan yang bersifat alamiah yang mengintegrasikan bidang-bidang ilmu yang berkaitan dengan pemberian bantuan psikologis.
    6). Pelayanan ditujukan kepada semua siswa, tidak hanya untuk individu yang bermasalah saja.
    7).Bimbingan merupakan suatu proses, yaitu berlangsung secara terus-menerus, berkesinambungan, berurutan, dan mengikuti tahap-tahap perkembangan anak.

    6. Prisip-Prinsip Profesional Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah
    Prinsip yang dimaksud ialah landasan teoritis yang mendasari pelaksanaan layanan bimbingan dan konseling, agar layanan tersebut dapat lebuh terarah dan berlangsung dengan baik. Bagi para konselor dalam melaksanakan ini perlu sekali memperhatikan prinsip-prinsip seperti: prinsp-prinsip umum, prinsip-prinsip yang berhubungan dengan individu yang dibimbing, prinsip-prinsip khusus yang berhubungan dengan individu yang memberikan bimbingan, prinsip-prinsip yang berhubungan dengan organisasi dan administrasi bimbingan.

    7. Asas-Asas Bimbingan dan Konseling
    Asas adalah segala hal yang harus dipenuhi dalam melaksanakan suatu kegiatan, agar kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan baik mendapatkan hasil yang memuaskan. Dalam kegiatan/layanan bimbingan dan konseling menurut Prayitno (1982) ada beberapa asas yang perlu diperhatikan, yaitu:
    1. Asas kerahasiaan
    2. Asas keterbukaan
    3. Asas kesukarelan
    4. Asas kekinian
    5. Asas kegiatan
    6. Asas kedinamisan
    7. Asas keterpaduan
    8. Asas kenormatifan
    9. Asas keahlian
    10. Asas alih tangan
    11. Asas tut wuri handayani

    8. Orientasi Layanan Bimbingan dan Konseling
    Layanan bimbingan hendaknya berfokuskan/berorientasi pada perkembangan individu. Dari segi lain, Prayitno (1982) menyatakan bahwa layanan bimbingan dan konseling harus berorientasi pada masalah-masalah yang dihadapi oleh klien pada berkonsultasi.
    Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa layanan bimbingan dan konseling hendaknya menekankan pada: (a) orientasi individual, (b) orientasi perkembangan siswa, dan (c) orientasi permasalahan yang dihadapi siswa.

    9. Kode etik Bimbingan dan konseling
                Untuk menyatukan pandangan tentang kode etik jabatan, berikut ini dikemukan suatu rumusan dari Winkel (1992): ”kode etik jabatan ialah pola ketentuan/aturan/cara yang menjadi pedoman dalam menjalankan tugas dan aktivitas suatu profesi”.
                Sehubungan dengan itu, BimoWalgito (1980) mengemukakan beberapa butir rumusan kode etik bimbingan dan konseling sebagai berikut:
    1)   Pembimbing atau pejabat lain yang memegang jabatan dalam bidang bimbingan dan penyuluhan harus memegang teguh prinsip-prinsip bimbingan dan konseling.
    2)  Pembimbing harus berusaha semaksimal mungkin untuk dapat mencapai hasil yang sebaik-baiknya, dengan membatasi diri pada keahliannya atau wewenangnya. Karena itu, pembimbing jangan sampai mencampuri wewenang serta tanggung jawab yang bukan wewenang serta tanggung jawabnya.
    3)      Pembimbing langsung berkaitan dengan kehidupan pribadi orang.

Konsep Dasar Bimbingan Dan Konseling Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 comments: