Blog Informasi Apa Aja

24 Agustus 2013

Perawatan dan Perbaikan Dispenser

Dispenser merupakan salah satu alat rumah tangga listrik yang banyak digunakan di rumah tangga maupun diwarung-warung, dan kantor-kantor. Peralatan ini berfungsi untuk memanaskan air hingga pada suhu 80 – 90 derajat Celcius. Air panas yang dihasilkan dapat digunakan untuk membuat beberapa cangkir kopi atau teh.
Ada dua macam dispenser yang dapat ditemukan baik di toko-toko, maupun di rumah-rumah tangga atau konsumen. Jenis pertama adalah dispenser yang hanya menyediakan air panas (80 – 90 derajat Celcius) dan air dingin biasa (suhu sekitar 15 – 25 derajat Celcius). Jenis kedua adalah dispenser yang mampu menyediakan air panas dan juga air sejuk (-10 – 5 derajat Celsius). Jenis pertama tidak menggunkan kompressor dan pendingin, sementara jenis kedua memerlukan kompressor dan bahan pendingin serta perangkat pendukung lainnya, seperti yang terdapat pada lemari es (coold kas), freezer, atau air conditioning (AC).
Komponen pemanas dispenser  terdiri dari sebuah tabung air yang terbuat dari plat baja tahan panas dan karat. Volume air panas yang dapat ditampung berkisar pada 800 – 100 ml. Tabung tersebut dilengkapi dengan elemen pemanas yang terisolasi terhadap badan tabung, sehingga peluang kontak langsung terhadap badan atau bodi dispenser tidak terjadi. Dengan demikian, pengguna menjadi aman terhadap sengatan arus listrik, meskipun bodi dispenser dipegang atau tersentuh langsung dengan tangan telanjang (tanpa isolasi).
Selain tabung pemanas, dispenser jenis ini dilengkapi dengan komponen peraba suhu. Peraba suhu yang digunakan merupakan sejenis bimetal yang dikemas dalam wadah yang terlindung dengan sejenis plastik berwarna hitam dengan selubung logam. Lihat Gambar 16. Suhu putus yang mampu digenggam bekisar antara 80 – 90 derajat Celcius. Jumlah dan kualitas komponen peraba suhu yang digunakan oleh setiap dispenser kadang-kadang tidak sama atau berbeda antara dispenser yang satu dengan yang lainnya. Bergantung pada merek atau produsen yang memproduksinya. Dispenser MultiKing model 26L misalnya hanya memiliki satu buah peraba suhu, sementara Miyako model WD – 189H memiliki dua buah komponen peraba suhu. Perhatikan Gambar 18 dan 19.

1)   Model dan Komponen Dispenser
Model dispenser berbede antara prodeusen yang satu dengan produsen yang lain. Sementara jenis kompoenen kelistrikan yang digunakan pada umumnya sama. Gambar 17 menunjukkan model dispenser MultiKing tupe 26L dan Miyako WD – 189H.
 


2) Rangkaian Kelistrikan Dispenser

Pembaca dapat mencermati Gambar 18 di atas, sehingga dapat memperkirakan rangkaian kelistrikan masing-masing dispenser tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran yang dilakukan penulis diperoleh rangkaian kelistrikan keduanya, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 19 berikut.
Gambar 19. (a) Rangkaian Kelistrikan Dispenser Multi King 26L, dan 
                 (b) Rangkaian Kelistrikan Dispenser Miyako WD – 189H


3) Perawatan Dispenser
Sama seperti ARTL yang lain, perawatan pada dispenser tetap diperlukan agar ARTL tersebut dapat digunakan lebih lama dalam kondisi normal, aman dan nyaman. Perawatan sebaiknya dilakukan sesuai petunjuk produsen dispenser yang anda beli atau miliki. Petunjuk perawatan yang dikeluarkan oleh produsen pada umumnya disertakan pada manual book atau brosur alat pada saat anda membeli peralatan tersebut. Terutama produk yang bergaransi. Disarankan, agar Anda senantiasa membeli ARTL yang bergaransi. Mintalah selalu manual book dan kartu garansi setiap Anda membeli ARTL agar keamanan, kenyamanan, dan keawetan ARTL anda dapat dipertanggungjawabkan.
Langkah perawatan dispenser yang dapat dilakukan pada umumnya antara lain sebagai berikut:
a)    Bacalah dengan saksama manual book ARTL dispenser Anda sebelum digunakan.
b)    Gunakan dispenser menurut yang dianjurkan dalam manual book tersebut.
c)     Letekkan atau posisikan dispenser sedemikian rupa hingga dudukannya sejajar dengan lantai. Tidak miring ke kiri, ke kanan, kebelakang, atau ke depan.
d)    Letekkan atau posisikan dispenser sedemikian rupa hingga sirkulasi udara yang mengitari lebih leluasa mengalami pertukaran kondisi. Letakkan badan dispenser paling dekat 10 cm dari dinding.
e)    Letekkan atau posisikan dispenser sedemikian rupa hingga mudah dijangkau penggunaan kran airnya. Posisi kran air dari lantai sekitar 90 – 100 cm dari lantai. Posisi kran air yang menyebabkan pengguna harus membungkuk saat menggunakannya kurang bagus, karena dapat menjadikan kran terbebani oleh momen berat badan, sehingga peluang kerusakan kran air menjadi lebih besar.
f)      Jangan meng-on-kan saklar on-off dispenser sebelum bak air berisi air atau sebelum gallon berisi air ditaruh di atas corong air dispenser hingga tabung pemanas air terisi penuh air. Meng-on-kan dispenser dalam keadaan tabung pemanas air kosong dapat menyebabkan tabung air terlampau panas dan mengakibatkan pipa plastik atau selang air yang dihubungkan kepadanya gepeng atau melumer dan tidak dapat dilalui aliran air dengan baik atau buntu.
g)    Bersihkan dispenser paling kurang sekali setelah tiga kali penggantian gallon atau air. Cuci bersih bak air untuk dispenser yang menggunakan bak air, seperti dispenser Multi King 26L. Sementara dispenser yang tidak menggunkan bak air cukup membersihkan corong air dudukan gallon, seperti dispenser Miyako WD – 189H. Perhatian! Hindarkan tabung air dan rangkaian kelistrikan dari siraman air.

4)    Kerusakan Dispenser dan Langkah Perbaikannya
Kerusakan yang paling sering ditemukan pada dispenser antara lain, sebagai berikut:
(a) Air Menetes atau bocor
Air menetes atau bocor dapat diakibatkan oleh kerusakan pada kran air, pipa atau selang air. Kerusakan yang terjadi pada keran air pada umumnya terjadi pada karet kedap airnya. Karet atau plastik kedap air kran yang cacat atau sudah kaku atau tidak elestis lagi menjadi penyebab menetesnya air keluar melalui celah karet kedap air tersebut. Jika karet kedap air tersebut yang rusak, maka dapat diganti sementara dengan karet ban dalam mobil yang dibuat persis seperti model karet kedap air kran. Selain itu, masalah air menetes dapat juga disebabkan oleh pecah atau bocornya pipa atau slang air yang menghubungkan antara kran air dengan bak penambung air, rabung air panas, atau corong penadah air. Kasus bocornya, atau pecahnya slang air sangat susah diatasi, karena slang air yang digunakan pada dispenser adalah slang air yang tahan panas, sehingga untuk mengatasinya memerlukan slang air pengganti yang memiliki karakteristik tahan panas yang sama dengan slang air dispenser.
Informasi yang diperoleh belum menunjukkan bahwa jenis slang dispenser sudah ada diperjual-belikan di toko-toko ARTL atau toko-toko elektronik.

(b) Air yang Keluar dari Kran ‘Air Panas’ Tidak Panas
Kasus ini terjadi jika arus listrik yang harus mengalir melalui elemen pemanas terputus. Kerusakan atau kendala dapat diakibatkan oleh: elemen pemanas yang terdapat di dalam tabung pemanas air rusak atau putus, bimetal peraba suhu putus, kabel-kabel rangkaian arus listrik rangkaian daya ada yang putus, seperti kabel yang menghubungkan antara bimetal dan elemen, antara bimetal dan saklar, dan kabel yang menguhungkan antara saklar dan sumber listrik .Kerusakan pada elemen pemanas menyebabkan  tabung air tidak terpanasi, sehingga air yang ada di dalamnya juga tidak panas. Akibatnya, air yang keluar dari kran air panas juga tidak panas. Peraba suhu atau bimetal yang putus menyebabkan lingkaran arus listrik dalam rangkaian daya juga terputus.
Arus listrik dalam rangkaian daya mengalir dimulai: dari sumber listrik -> tusuk kontak -> kabel listrik -> saklar on-off -> elemen pemanas -> lalu kembali ke sumber listrik. Jika salah satu komponen yang rusak dalam lingkaran arus tersebut dan tidak dapat melewatkan arus listrik, misalnya tusuk kontak, kabel listrik, saklar, elemen pemanas, atau bimetal peraba suhu, maka elemen pemanas tidak akan bekerja atau memanas. Akibatnya, air yang ada di dalam tabung air panas tidak akan menjadi panas.
Langkah penanggulangannya adalah sebagai berikut:
(1)   Periksa sumber listrik. Gunakan test pen, atau voltmeter untuk mentehaui ada-tidaknya tegangan pada sumber listrik tersebut;
(2)   Jika hasil pemeriksaan pada sumber listrik menunjukkan bahwa sumber listrik normal, maka lanjutkan pemeriksaaan pada tusuk kontak;
(3)   Tes hubungan tusuk kontak dengan menggunakan ohmmeter. Jika tusuk kontak yang digunakan tersambung tetap dengan kabel pengahantar, maka tes hubungan ‘tusuk kontak’ hanya dapat dilakukan dengan jalan mengubungkan salah satu probe ohmmeter ke slah satu terminal tusuk kontak dan probe ohmmeter yang lain disambungkan pada salah satu ujung kabel penghantar. Lakukan hal yang sama pada terminal tusuk kontak yang lain dan ujung penghantar yang lain. Jika pengukuran menunjukkan pergerakan jarum ohm bergerak ke kanan dan menunjuk angka nol, maka hubungan tusuk kontak dan penghantar bagus. Artinya, kerusakan bukan pada tusuk kontak dan kabel penghantar;
(4)   Lanjutkan pemeriksaan pada komponen lingkaran arus daya yang lain. Jika jarum ohmmeter tidak bergerak atau penunjukkannya tak terhingga, berarti tusuk kontak rusak, atau  kabel penghantar ‘putus dalam’. Ganti tusuk kontak dan kabel penghantarnya. Sementara itu, jika tusuk kontak tidak terpasang paten atau dapat dipisahkan dengan kabel penghantar, maka pemeriksaan hubungan dapat dilakukan terpisah antara tusuk kontak dan kabel pengahantar. Cara pemeriksaannya sama seperti pada tusuk kontak paten, demikian pula cara penanggulangannya;
(5)   Tes kondisi saklar ‘on-off’ dispenser dengan menggunakan ohmmeter. Caranya: Lepaskan kabel penghantar arus dari salah satu terminal saklar -> letakkan posisi tuas saklar pada posisi off -> sambungkan probe ohmmeter pada masing-masing terminal saklar. Jika saklar masih bagus, maka jarum penunjuk alat ukur ohmmeter harus bergerak ke kanan mencapai titik nol. Jika tidak demikian, maka saklar sudah kehilangan kontak atau rusak. Keruskan pada saklar on-off dapat terjadi karena pengaruh mekanik, misalnya lidah kontak patah, biji engle dan atau pegas penopang biji engle terlepas sehingga posisi kontak lidah-lidah kontak saklar tidak bersentuhan; dan atau pengaruh suhu kerja saklar terlampaui, misalnya badan atau bodi saklar menjadi gepeng, sehingga menyebabkan lidah-lidah kontak tidak dapat bergerak menuju pada poisi on atau off;
(6)   Tes kondisi hubungan bimetal peraba suhu. Pertama, tes hubungan kontak-kontaknya pada suhu normal dengan menggunkan ohmmeter. Jika jarum ohmmeter bergerak ke kanan menunjuk angka nol, maka bimetal dalam kondisi bagus, tetapi jika jarum ohmmeter tidak bergerak ke kanan atau menunjuk angka tak terhingga, maka bimetal sudah rusak. Kondisi terakhir akan menyebabkan terputusnya lingkaran arus rangkaian daya dispenser dan menyebabkan elemen pemanas tidak berfungsi. Kedua, tes hubungan kontak bimetal dalam keadaan dipanasi dengan menggunakan ohmmeter dan solder sebagai sumber panas. Penunjukan ohmmeter pada pemeriksaan dalam kondisi ini adalah: jarum ohmmeter pada pemeriksaan awal akan menunjuk angka nol (bimetal peraba suhu bagus), kemudian setelah mendapat pemansan dari solder hingga suhunya meningkat pada suhu tertentu ohmmeter akan kembali bergerak ke kiri hingga menunjuk angka tak terhingga. Hasil pengukuran ini menunjukkan bahwa bemital berfungsi meraba suhu tertentu atau masih bagus dan dapat terus digunakan. Jika terjadi sebaliknya, berarti bimetal peraba suhu sudah rusak dan tidak dapat digunakan. Kerusakan kontak-kontak bimetal peraba suhu dapat menyebabkan terputusnya arus listrik dalam lingkaran arus rangkaian daya atau pemanasan air dalam tabung air tidak mampu mencapai suhu standar (³ 90 derajat Celcius). Bimetal peraba suhu yang rusak tidak dapat diperbaiki. Oleh karena itu, segeralah mengganti bimetal peraba suhu yang rusak dengan bimetal baru. Bimetal baru harus sama karakteristiknya dengan bimetal yang diganti.

Istilah : ARTL = Alat Rumah Tangga Listrik

Perawatan dan Perbaikan Dispenser Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 komentar: