Blog Informasi Apa Aja

24 Agustus 2013

Perawatan dan Perbaikan Seterika Listrik

Pada dasarnya, penemu "seterika kuno" tidak dapat ditentukan secara pasti kerana belum ada bukti sejarah yang menerangkannya.  Akan tetapi, banyak orang yang mempercayai kalau seterika elektrik ditemui oleh Henry W. Seely pada 1882.

Seterika elektrik yang ditemui oleh Henry tersebut berupa seterika elektrik rata yang masih mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya lama untuk panas, tetapi sangat cepat sejuk.  Oleh kerana itu, beberapa saintis selepas Henry cuba melakukan penambahbaikan-penambahbaikan terhadap teknologi seterika elektrik.

Penggunaan seterika listrik dimaksudkan untuk menghaluskan atau melicinkan pakaian yang berkerut atau kusut hingga nampak rapi dan enak dipakai. Umumnya penyetrikaan dilakukan setelah pakaian dicuci dan dikeringkan. Komponen utama seterika liatrik meliputi: elemen pemanas, termostat (untuk seterika otomastis), plat dasar (sole palate), besi pemberat, tutup, gagang, terminal, dan kabel penghubung.

Komponen sebagai sumber panas digunakan elemen pemanas. Pada seterika listrik biasa, elemen pemanas diletakkan di antara plat dasar dan besi pemberatnya. Panas yang dihasilkan elemen pemanas dikonduksikan (dihantarkan) kepada plat dasarnya. Plat dasar terbuat dari logam yang tahan karat, atau dilapisi dengan bahan tahan karat supaya tidak mengotori atau merusak bahan atau pakaian yang diseterika. Contoh konstruksi seterika biasa dan seterika otomatis ditunjukkan pada Gambar 10a dan 10b.


Gambar 10a: Konstruksi Elemen Seterika Biasa


Seterika listrik jika dilihat dari proses kerjanya dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu seterika biasa dan seterika otomatis. Seterika biasa tidak menggunakan pengatur panas, sehingga panasnya akan meningkat terus menurut waktu tersambungnya pada sumber listrik. Sementara itu, tidak demikian halnya dengan seterika otomatis. Seterika otomatis akan terputus dari sumber listrik jika mencapai suhu tertentu menurut pengaturan yang diinginkan, kemudian tersambung kembali setelah suhunya berada di bawah setting suhu yang telah ditentukan. Pengaturan panas seterika otomatis ini dapat diperoleh dengan menggunakan peraba suhu yang disebut termostat.

1)    Seterika Listrik Biasa Tanpa Pengatur Panas
Seterika listrik tanpa pengatur panas merupakan jenis seterika yang paling sederhana seperti yang ditunjukkan pada gambar 10a di atas. Setelah kabel listrik disambungkan  pada sumber listrik, arus listrik akan mengalir dari sumber menuju elemen, kemudian seterika berangsur-angsur menjadi panas. Jika kondisi ini dibiarkan berlangsung terus, maka seterika akan rusak karena terlampau panas dan dapat menimbulkan bahaya kebakaran. Oleh sebab itu, seterika jenis ini tidak boleh ditinggalkan tanpa dilepaskan dari sumber listrik.

2) Seterika Listrik dengan Pengatur Panas
Seterika listrik jenis ini lebih baik dibandingkan dengan jenis biasa. Kelebihan utama yang dimiliki adalah adanya pengatur suhu yang dapat mengendelikan on-offnya atau tersuplai-tidaknya seterika pada sumber listrik. Kondisi ini menjamin terhindarnya pemakai dari bahaya panas seterika yang berlebihan seperti kondisi yang telah diterangkan pada seterika biasa di atas. Suhu seterika dapat ditur menurut kebutuhan panas berbagai jenis kain atau pakaian yang akan diseterika. Posisi pengatur suhu atau termostat pada umumnya diletakkan di bawah gagang seterika, lihat Gambar 10b dan 11. Sementara itu, bentuk asli salah satu seterika otomatis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 11.

Gambar 10b: Konstruksi Seterika Listrik Otomatis




4)    Perawatan dan Analisa Kerusakan pada Seterika
Pada umumnya orang berpendapat sebagaimana telah dikemukakan pada bagian mixer bahwa segala sesuatu yang dirawat dengan telaten akan awet. Pendapat ini berlaku pula pada penggunaan ARTL. ARTL yang dalam penggunaannya senantiasa dirawat akan awet.  Meskipun demikian, kadang kerusakan tak dapat dihindari. Oleh karena itu, selain harus mengerti perawatan, perlu pula menguasai dengan baik perbaikan kerusakan suatu ARTL, terutama bagi mereka yang mengikuti mata kuliah ini. Jenis perawatan dan perbaikan ARTL yang akan dibahas pada poin ini adalah perawatan dan perbaikan seterika pada umumnya.

(a)  Perawatan Seterika
Langkah-langkah yang perlu dilakukan dalam merawat seterika agar awet demikian pula penggunaannya dituangkan dalam buku atau brosur penggunaannya. Baca dengan saksama buku atau brosur petunjuk penggunaan seterika sebelum digunakan. Buku atau brosur petunjuk penggunaan seterika disertakan dalam paket seterika saat pertama kali membeli seterika. Periksa keberadaan buku atau brosur petunjuk tersebut saat anda membeli seterika. Jika tidak ada, mita pada penjual. Jangan membeli seterika yang tidak disertai buku atau brosur petunjuk penggunaannya.
Kerjakan semua perintah yang diharuskan dalam buku atau brosur tersebut saat anda menggunakan seterika, dan hindari semua yang dilarang anda lakukan. Pada umumnya, buku atau brosur petunjuk penggunaan tersebut berisi langkah-langkah penggunaan sebagai berikut:
(1)   Periksa dan cocokkan kebutuhan tegangan suplei dan frekuensi kerja dengan tegangan terpasang dan frekluensi kerja di tempat anda akan menggunakan seterika.
(2)   Posisikan saklar seterika pada posisi ‘0’ atau off, jika seterika memiliki saklar ‘on-off. Pada umumnya seterika tidak memiliki saklar ‘on-off’, terutama seterika biasa. Sementara pada seterika otomatis, yang berfungsi sebagai saklar on-off-nya adalah tombol pengatur suhunya. Tombol pengatur suhu pada seterika otomatis, berfungsi sebagai pengatur jarak kontak antara lidah-lidah kontak bimetal yang bersesuaian langsung dengan kuantitas suhu kerja putus-kontaknya seterika terhadap sumber listrik yang mensupleinya. Dengan demikian tombol pengatur suhu tersebut dapat dianggap sebagai pengatur kerja saklar on-off.
(3)   Tusukkan ‘tusuk kontak’ dengan benar pada stop kontak sumber listrik AC tegangan 220 ~ 230 volt, 50 ~ 60 Hz. Perhatian! Besaran ini tidak boleh dilanggar. Pelanggaran terhadap besaran listrik ini dapat menyebabkan kerusakan fatal pada seterika. Pegang dengan baik ujung tusuk kontak (bukan kabel penghantarnya) saat menusukkan dan melepaskan tusuk kontak ke dan dari stop kontak.
(4)   Perhatian! Bodi seterika tidak boleh dicuci. Di dalam bodi seterika terdapat rangkaian kelistrikan seterika. Pencucian bodi seterika akan membasahi rangkaian kelistrikan seterika. Hal ini dapat mengakibatkan rangkaian kelistrikan seterika terhubung singkat (korsleting). Dampak selanjutnya rangkaian kelistrikan dan elemen seterika akan terbakar ketika dihubungkan pada sumber listrik.

(b)  Perbaikan Seterika
Pada urain sebelumnya telah dijelaskan bahwa kerusakan pada ARTL kadang tidak dapat dihindari. Kerusakan dapat terjadi karena: (1) faktor usia atau frekuensi penggunaan seterika; (2) faktor bencana, seperti bencana alam dan kecelakaan; dan (3) faktor kecerobohan atau kesalahan penggunanya. Faktor usia atau frekuensi penggunaan seterika dan faktor bencana susah dihindari tetapi faktor kecerorobohan atau kesalahan dapat dihindari dengan jalan meningkatkan pengetahuan tentang seterika dan cara penggunaannya. Oleh karena itu pengetahuan dan keterampilan untuk memperbaiki kerusakan tersebut perlu dimiliki, terutama oleh mereka yang mengikuti mata kuliah ini. Berikut ini diurakan beberapa jenis kerusakan seterika dan langkah perbaikannya.

(1)  Seterika tidak Panas
Seterika tidak panas karena tidak ada arus listrik yang masuk ke dalam elemen seterika. Kondisi ini disebabkan oleh adanya kerusakan pada bagian-bagian yang dilalui arus listrik yang menuju ke dalam kumparan atau belitan elemen seterika, seperti: tusuk kontak, kabel pengantar, tombol pengatur suhu (pengatur jarak lidah kontak bimetal), saklar pengubung kontak atau bimetal.

Cara ke-1 perbaikan setrika lisrik, yang perlu dilakukan, yakni:
(a) Periksa kondisi fisik tusuk kontak dengan pengamatan mata telanjang dari kemungkinan: terbakar, patah atau terlepas dari hubungan kontak dengan kabel pengantar. Kemudian, jika kondisi fisik terlihat bagus, lanjutkan dengan pemeriksaan hubungan kontak terminalnya dengan ujung kabel pengantar yang dihubungkan kepadanya dengan menggunakan multimeter (posisi ohm, skala 10X). Jika jarum penunjuk multimeter bergerak ke kanan menuju ke titik ukur ‘0’ dan menunjuk nilai ukur tertentu, misalnya 0 ohm atau mendekati 0 ohm dan tidak bergerak dari nilai tersebut, maka tusuk kontak seterika masih baik. Selain kondisi tersebut, tusuk kontak rusak dan harus diganti dengan yang baru;
(b)   Periksa sambungan dan kondisi kabel penghantar, jangan sampai ada yang terlepas. Kemudian gunakan multimeter (posisi saklar pilih pada poisisi ‘ohm’, skala 10X) untuk memeriksa kondisi kabel jangan sampai mengalami putus ‘dalam’. Putus ‘dalam’ artinya kawat pengahantar yang berada di dalam selubung isolasi penghantar ‘patah’ atau terputus, sehingga titik atau posisi putusnya tidak terjangkau melalui indra mata, sehingga perlu dideteksi kondisinya dengan alat ukur multimeter atau ohm meter;
(c)   Periksa saklar bimetal (khusus seterika otomatis), jangan sampai patah, aus atau gigi atau alur putar terlepas atau sudah rusak, sehingga menyebabkan hilangnya kontak antara bimetal. Saklar bimetal yang patah, terlalu aus atau alur putar terlepas dapat menyebabkan hilangnya hubungan kontak antara kontak-kontak bimetal seterika. Akibatnya seterika tidak dapat tersuplei arus listrik dan tidak panas. Jika bimetal patah, terlalu aus atau alur putar terlepas atau rusak, maka alternatif perbaikannya untuk berfungsi sebagai otomatis tidak dapat dilakukan lagi, tetapi seterika tetap dapat difungskan sebagai seterika biasa.
(d)   Periksa elemen pemanas seterika. Pemeriksaan kondisi elemen dapat dilakukan dengan menggunakan ohmmeter, dengan langkah sebagai berikut:

  • Posisikan skalar pilih alat ukur (jika menggunakan multimeter) pada posisi ohm meter 1X.
  • Tes pergerakan jarum alat ukur dengan jalan menghubung singkat ujung-ujung kedua probe alat ukur dalam keadaan saklar pilih pada posisi ohmmeter. Jika jarum alat ukur bergerak ke kanan mendekati atau sama dengan nol, maka alat ukur dapat digunakan untuk menguji kondisi elemen seterika.
  • Hubungkan masing-masing ujung probe pada masing-masing terminal elemen. Jika pengukuran ini menyebabkan bergerak ke kanan mendekati atau menunjuk angka nol, maka elemen masih baik. Jika tidak bergerak, maka berarti elemen sudah putus. Perhatian!!! Jangan melakukan pengukuran ini jika seterika masih tersuplei atau terhubung dengan sumber listrik. Elemen seterika harus terbebas dari kontak dengan komponen lain sebelum melakukan pengukuran.
  • Ganti elemen yang putus dengan lemen seterika yang sama dengan karakteristik elemen seterika yang rusak. Pada seterika biasa, elemen yang putus biasanya masih dapat diperbaiki dengan jalan menyambukan kembali ujung-ujung elemen yang putus, tetapi pada seterika otomatis hal ini tidak dapat dilakukan karena konstruksi elemennya dipadatkan dengan bahan isolator dalam selongsong pipa
Cara ke-2 Perbaikan Setrika Adalah sbb :
1. Pemeriksaan hubungan terbuka,
Gunakan multimeter, setlah pada skala Rx1k. Cabutlan tusuk kontak pesawat dari sumbernya. Ukurlah pada ujung2 dari tusuk kontak pesawat dengan multimeter. Jika multimeter menunjukkan harga tak terhingga, berarti rangkaian terbuka, tetapi jika multimeter menunjukkan harga tertentu hingga beberapa kilo, berarti ada lingkaran arus tertutup. Harus terjadi rangkaian tertutup jika pengatur panas seterika diputarkan.
2. Pemeriksaan hubungan badan,
Gunakan AVO, setlah pada skala Rx1. Cabut tusuk kontak pesawat dari sumbernya. Ukurlah antara salah satu ujung2 kontak pada steker dengan bodi pesawat. Jika multimeter menunjukkan harga tak terhingga, berarti tidak terjadi hubung badan, tetapi jika multimeter menunjukkan harga tertentu, berarti terjadi kontak dengan badan pesawat. Seterika harus dibongkar untuk meneliti penyebab terjadinya hubung badan.
Langkah berikutnya , bila seterika tidak bekerja kemungkinan penyebabnya adalah:
a. Tidak ada tegangan, periksalah kabel power, tusuk kontak, dan kotak kontak.
b. Kabel tusuk kontak rusak, periksa kabel; jika rusak gantilah.
c. Elemen rusak, periksa dengan multimeter; jika rusak gantilah.
d. Termostat lepas kontak, Periksa thermostat, mekanisme kontak; jika rusak gantilah.
Cara ke-3 Perbaikan Setrika Listrik yang Rusak Mati Total
1. Buka rangka setrika mengunakan obeng + setelah terbuka ukur kabel setrika mengunakan multitester dengan posisi seperti saat mengukur resistor atau hambatan. Apabila jarum multitester berjalan pada setiap ujung terminal kabel maka kabel tersebut dalam kondisi baik. Apabila jarum tidak bergerak salah satu terminal ganti kabel tersebut.
2. Ukur elemen dengan multitester (langsung keterminalnya bukan melalui saklar otomatis termostatl) bila jarum bergerak dan menunjukan nilai tahanan tertentu maka elemen tersebut masih baik bila sebaliknya (jarum tidak bergerak) maka ganti elemen tersebut karena mengalami kerusakan.
3. Untuk memutuskan arus dan mengidupkan kembali setrika mengunakan saklar otomatis termostat. Saklar ini berkerja sesuai setelan pengaturan suhu dan akan memutus arus listrik setelah mendapatkan batas panas terentu. Ukur saklar dengan terlebih dahulu memutar setelan panas maksimal. Apabila jarum berjalan menandakan saklar otomatis masih berfungsi dan apabila tidak berjalan jarum multitester berarti saklar rusak atau kotor. Untuk langkah perbaikan adalah bersikan terminal saklar dan bila diperlukan ganti saklar termostat dengan yang baru.

Perawatan dan Perbaikan Seterika Listrik Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 komentar: