Blog Teknologi, Pendidikan, Informasi, Hiburan, Kesehatan, Islami dan Apapun Yang Bermanfaat

01 October 2013

Belajar Geometri Menurut Model Pembelajaran Van Hiele



Menurut Van Hiele perkembangan pemahaman dalam belajar geometri siswa akan melalui 5 tahap, yaitu: tahap 0 (visualisasi), tahap 1 (analisis), tahap 2 (deduksi informasi), tahap 3 (deduksi), tahap 4 (rigor) (Martina, 2003: 18). Setiap tahap menunjukan karakteristik proses berpikir seseorang dalam belajar geometri dan pemahamannya dalam konteks geometri.
Untuk membantu melewati suatu tahap berpikir ke tahap berikutnya, pembelajaran matematika, khususnya geometri perlu disesuaikan antara pengalaman belajar dengan tahap berpikir siswa Fuys dkk (Martina, 2003: 46).
a.           Tahap 0 (visualisasi)
Pada tahap ini anak mengenal bentuk-bentuk geometri semata-mata berdasarkan penampilan visual dan penampakan bentuknya. Mereka dalam mengidentivikasi suatu bangun lebih didasarkan pada prototipe visual. Sebagai contoh melalui pengamatan, eksperimen, dan gambar, siswa mempunyai konsepsi bahwa bangun yang diketahui adalah persegi panjang karena “seperti daun pintu.
Siswa belum dapat memberikan sifat-sifat suatu bangun yang ditujukkan, meskipun suatu bangun telah ditentukan karakteristiknya, namun siswa belum menyadari karakteristik tersebut. Mereka mengenal bangun-bangun geometri secara keseluruhan tidak pada bagian-bagian.
b.         Tahap 1 (analisis).
Siswa pada tahap ini mengalami dan mencirikan bentuk bangun geometri berdasarkan sifat-sifatnya melalui kegiatan pengamatan, mengukur, mewarnai, melipat, memotong, menggambar dan sebagainya.
Meskipun kebanyakan siswa secara inplisit menyadari adanya hubungan antar bangun, tetapi siswa belum dapat memahami hubungan antara pesegi dan persegi panjang. Artinya siswa belum bisa memahami bahwa persegi juga merupakan persegi panjang.
c.         Tahap 2 (deduksi informal)
Tahap ini dikenal dengan tahap abstraksi, dimana siswa pada tahap berpikir ini sudah dapat melihat hubungan sifat-sifat pada suatu bangun. Misalnya; pada suatu segi empat, sisi yang berhadapan adalah sejajar mengakibatkan sudut yang berhadapan sama, dan hubungan antar bangun (persegi adalah persegi panjang, sebab persegi mempunyai semua sifat-sifat persegi panjang).
Pada tahap ini mereka dapat menyusun definisi-definisi abstrak dan dapat memberikan argumen-argumen informal serta mengklasifikasi bangun-bangun dengan hirarkis (mengurutkan sifat-sifat). Misalnya, siswa mendeduksikan bahwa dalam segi empat jumlah semua ukuran sudutnya adalah 3600, sebab setiap segi empat dapat dikomposisi menjadi 2 segitiga yang masing-masing jumlah besar sudutnya 1800.
Seperti siswa menemukan sifat-sifat dari berbagai bangun, mereka perlu mengorganisasikan sifat-sifat itu. Satu sifat dapat menjadi perantara sifat-sifat lain, sehingga  definisi  lain  tidak  dilihat  sebagai  deskripsi  belaka, tetapi  sebagai  metode
pengorganisasian yang logis. Siswa pada tahap ini masih belum mengerti bahwa deduksi logis adalah metode untuk membangun kebenaran geometri. Menurut Clements & Battista (Zubaidah, 1999: 56) produk penalaran siswa pada tahap ini adalah berorganisasi pada ide-ide yang telah dipahami sebelumnya dengan menghubung-hubungkan  antara sifat-sifat bangun dengan kelas-kelasnya.
d.        Tahap 3 (deduksi)
Pada tahap ini, siswa sudah mulai memahami penalaran deduktif. Siswa kemungkinan sudah dapat menyatakan argumen-argumen untuk membuktikan suatu pernyataan dengan lebih dari satu cara. Misalnya, membuat serangkaian pernyataan-pernyataan logis yang memenuhi untuk menarik kesimpulan yang merangkum pernyataan itu. Secara eksplisit dapat memahami mengapa suatu pernyataan bernilai benar. Siswa pada tingkat ini juga telah dapat melihat secara jelas bahwa diagonal-diagonal persegi panjang saling membagi sama, dan dapat menyadari perlunya untuk membuktikan melalui serangkaian alasan deduktif.
e.         Tahap 4 (rigor)
Tahap ini merupakan tahap terakhir perkembangan geometrik siswa. Pada tahap ini siswa bernalar secara formal dalam sistem matematika dan dapat mengkaji geometri tanpa referensi model-model. Siswa dapat memahami suatu konsep atau teori atas berbagai sistem aksiomatik dan sistem logika.


Referensi :

Martina. 2003. Pemahaman Konsep Segitiga dengan Penerapan Teori Van Hiele Bagi Siswa Kelas I SLTP Negeri 3 Banjarmasin. Tesis. Malang: Universitas Negeri Malang. Program Pascasarjana Program Studi Pendidikan Matematika.

Zubaidah. 1999. Membangun Konsepsi Geometri Melalui Model Belajar Perubahan Konseptual Berpadu pada Teori Van Hiele pada Siswa Kelas V SD. Tesis. Malang: Universitas Negeri Malang.
 
 

Belajar Geometri Menurut Model Pembelajaran Van Hiele Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 comments: