Blog Informasi Apa Aja

26 Oktober 2013

Cerita Korupsi - Beasiswa Murid Dipakai Guru

Beasiswa, bagi siapapun, akan disambut penuh suka cita. Tak peduli beasiswa itu sebagai tanda penghargaan atas prestasi si penerima, atau tanda kasihan pihak yang memberi. Selain itu ada juga beasiswa yang sudah dianggarkan untuk kepentingan rakyat miskin, lewat APBN atau APBD. Pemerintah juga berulangkali menyediakan program, juga bantuan bagi kalangan tidak mampu, mulai dari Inpres, Wajib Belajar sembilan tahun, sampai Jaring Pengaman Sosial (JPS) khusus pendidikan.

Program pemberian beasiswa itu, juga menjalar ke Makassar. Termasuk menyinggahi keluarga Rima yang miskin. Hiruk pikuk anak-anak dari tiga pasang keluarga yang tinggal dalam satu rumah serta aroma khas dari genangan air got yang tersumbat merupakan suasana keseharian yang harus dijalani oleh Rima. Di rumah sangat sederhana inilah ibu berusia 31 tahun ini tinggal. Ia berusaha keras mengatur kehidupan rumah tangganya.

Suaminya, Nawir, bekerja sebagai instalator listrik. Pendapatan suaminya hanya sebesar Rp. 100.000,- per bulan. Hampir tak ada penghasilan lainnya, karena Rima  hanya ibu rumah tangga biasa. Untuk dagang kecil-kecilan, Rima tak punya modal dan pengalaman. Untuk itu Rima  harus seirit mungkin menggunakan uang agar kebutuhan sehari-hari mencukupi, termasuk biaya sekolah bagi anak-anaknya.

Kehidupan mereka semakin terpuruk, seiring dengan krisis yang melanda Indonesia. Makin hari, kehidupan keluarga makin berat. Rima sering hanya melamun memikirkan anak-anaknya..

Untunglah, rezeki datang dari mana saja. Anaknya, Lani, mendapatkan beasiswa dari Pemerintah. Keluarga Rima langsung sumringah.

Bantuan beasiswa itu  ibarat durian runtuh bagi keluarga Rima. Paling tidak, pemerintah masih memperhatikan keluarga miskin itu.  Rima  tak perlu lagi memikirkan kebutuhan uang sekolah anaknya, sekalipun perlu terus menyediakan kebutuhan harian, seperti makan atau pakaian.

Namun sayang ternyata durian tersebut ikut dinikmati oleh pihak lain. Lani, juga Rima, hanya dapat baunya.

Walau merasa beruntung, ibu rumah tangga yang tinggal di Maccini Sombala ini tak pernah melihat bantuan tersebut. Pasalnya yang menerima secara langsung beasiswa adalah Lani dengan ditemani oleh gurunya. Rima tak pernah diminta menemani anaknya. Biasanya Lani dan gurunya mengambil bea siswa di Kantor Pos dan Giro. Lani sebagai penerima beasiswa akan mengisi administrasi penerimaan di kantor pos itu, dengan petunjuk gurunya. Petugas kantor pos juga akan menyerahkan uang itu kepada Lani, atau anak-anak yang menerima beasiswa lainnya. Lani, dengan senang, menerima uang dalam jumlah besar baginya itu.

Tetapi, setibanya Lani di sekolahnya, sebuah SD di Jalan Bajigau, uang tersebut diminta kembali oleh guru. Kata guru itu, uang tersebut digunakan membayar uang BP3, SPP, buku, dan lain-lainnya. Bantuan pemerintah sebesar Rp. 60.000,- per caturwulan, atau Rp. 120.000,- per tahun tersebut langsung ludes dalam sekejap. Lani  yang berhak atas penggunaan uang itu, hanya menjadi perantara uang itu dari kantor pos ke guru. Sepersen pun Ia tak menikmati bantuan itu, termasuk untuk sekedar membeli permen.

Rima  tentu saja bingung atas kenyataan itu. Rima  mengaku tidak ingin memakai uang bea siswa itu untuk membantu keluarganya memenuhi kebutuhan sehari-hari. Rima  rela saja uang bea siswa itu dipakai untuk memenuhi pembayaran uang sekolah anaknya di sekolah. Rima  juga tak peduli tidak pernah melihat atau menerima uang bea siswa tersebut. Tapi masalahnya, tidak ada tanda bukti pemotongan dan penerimaan uang bea siswa tersebut dari pihak sekolah. Rima  sebagai orang tua, merasa tak dilibatkan oleh pihak sekolah.

“Kwitansi penerimaan uang atau tanda bukti uang bea siswa itu dipotong untuk apa saja, sama sekali saya tidak tahu,” ungkap Rima .

Rima  tidak habis pikir, kenapa beasiswa yang diterima oleh anaknya diatur sepihak oleh kalangan sekolah. Kenapa Ia sebagai orang tua tak berhak tahu penggunaannya.

“Entah saya yang tak pantas tahu atau memang guru dan kepala sekolah merasa kami sebagai orang tua tak mengerti apa-apa,” ujar Rima  penuh tanda tanya.

Pertanyaan Rima  hanya menampar angin. Aroma khas dari got didepan rumahnya, berubah menjadi bau busuk. Ayam Kinantan pun tak berkokok mendengar keluh kesah itu.

Cerita Korupsi - Beasiswa Murid Dipakai Guru Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 komentar: