Blog Informasi Apa Aja

09 Oktober 2013

Teori Belajar Konstruktivistik



1.      Pendekatan Kostruktivistik
Esensi dari teori adalah siswa itu sendiri yang harus menemukan dan mentransfer informasi-informasi yang akan dijadikan milikinya. Peranan guru adalah menyediakan fasilitas dan membantu siswa menemukan dan mentransfer informasi itu. Sebagaimana Slavin (Wardani, 1999: 4) mengatakan bahwa teori belajar konstruktivistik adalah teori yang berpandangan bahwa siswa itu sendiri yang harus menemukan dan mentransformasi informasi komplek, mengecek informasi baru, kemudian dibandingkan dengan aturan lama dan merevisi aturan itu apabila tidak sesuai lagi. Hal ini diperkuat oleh Anders (Wardani, 1999: 5) bahwa konstruktivistik adalah pandangan tentang belajar mengajar yang menempatkan pelajar sendiri arti atau pengetahuan dari pengalaman dan interaksi dengan yang lain dan peranan guru menyediakan pengalaman yang berarti bagi siswa. Berdasarkan kedua pendapat di atas maka pandangan konstruktivistik adalam belajar adalah siswa sendiri yang membangun pengetahuan yang dimilikinya
Konstruktivistik adalah salasatu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah konstruksi (bentukan) kiat sendiri. Von Glasersfeld (Inganah, 2003: 1) menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah suatu tiruan dan kenyataan (realita). Konsep pembelajaran konstruktivistik didasarkan pada kerja akademik pada ahli psikologis dan peneliti yang peduli dengan konstruktivistik. Para ahli konstruktivistik mengatakan bahwa ketika siswa mencoba menyelesaikan tugas-tugas di kelas, maka pengetahuan matematika dikonstruksi secara aktif dan setuju bahwa belajar matematika melibatkan manipulasi aktif dan pemaknaan bukan banyak bilangan dan rumus-rumus, mereka menolak paham bahwa matematika dipelajari dalam satu koleksi yang berpola linear. Setiap tahap dalam pembelajaran melibatkan suatu proses penelitian terhadap makna dan penyampaian keterampilan dengan cara yang tidak ada jaminan bahwa siswa akan menggunakan keterampilan intelegensinya dalam setting matematika. Menurut Suherman (2001: 24) dalam mengkonstruksi pengertian matematika. Melalui pengalaman, dapat diidentifikasi dan kuat terhadap konstruksi ( Power Full Construction ) berpikir siswa. Powerfull Construction ditandai oleh :
1.         Sebuah struktur dengan ukuran kekonsistenan internal.
2.         Suatu keterpaduan antar macam-macam konsep.
3.         Suatu kekonvergenan diantara aneka dan konteks.
4.         Kemampuan untuk merefleksi dan menjelaskan
5.         Sebuah kesinambungan sejarah.
6.         Terkait kepada macam-macam sistem simbol
7.         Suatu yang cocok dengan pendapat Eksperts (ahli)
8.         Suatu potensial untuk bertindak sebagai alat untuk konstruksi lebih lanjut.
9.         Sebagai petunjuk untuk tindakan berikutnya.
10.     Suatu kemampuan untuk menjustilikasi dan mempertahankan. 
Beberapa prinsip pembelajaran dengan menggunakan pendekatan konstruktivistik diantaranya adalah observasi dan mendengar aktivitas dan pembicaraan matematika siswa dapat dievaluasi. Dalam konstruktivistik aktivitas  kerja dalam kelompok kecil, dan diskusi kelas dengan menggunakan apa yang muncul dalam materi kurikulum kelas biasa. Dalam konstruktivistik proses pembelajaran senantiasa “problem centered aproac” dimana guru dan siswa terikat dalam pembicaraan yang memilik makna dalam pembelajaran.
Dalam prakteknya pendekatan konstruksivistik terhadap evaluasi pembelajaran ditekankan pada penyusunan makna secara aktif yang melibatkan keterampilan terintegrasi dengan mengunakan masalah dalam konteks nyata, yang berorientasi untuk menggali munculnya berfikir divergen pada diri siswa dan pemecahan masalah atas berbagai macam solusi masalah.
2.      Ciri-ciri Pendekatan Konstruktivistik
Ciri-ciri pembelajaran matematika sesuai pandangan konstruktivis menurut Hudoyo (Inganah, 2003: 12) antara lain (1) siswa terlibat aktif dalam belajarnya, (2) informasi baru harus dikaitkan dengan informasi lain sehingga menyatu dengan skemata (jaringan konsep) yang dimiliki siswa, (3) orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah. Agar pembelajaran matematika dapat tercapai secara optimal maka harus disediakan lingkungan belajar yang konstruktivistik pula.
Karakteristik utama belajar menurut pendekatan konstruktivistik, Mustaji dan Sugiarso (Aisyah, 2007: 7-8) (1) belajar adalah proses aktif dan terkontrol yang maknanya terkonstruksi oleh masing-masing individu, (2) belajar adalah aktivitas sosial yang ditemukan dalam kegiatan bersama  dan memiliki sudut pandang yang berbeda, (3) belajar melekat dalam pembangunan suatu artifak yang dilakuksn dengan saling berbagi dan kritik oleh teman sebaya.
Hal tersebut di atas identik dengan Strommen (Latri, 2003: 11) menjelaskan bahwa konstruktivistik adalah sebuah teori hasil penelitian Piaget. Dasar pemikiran fundamental konstruktivis, bahwa siswa secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya. Sehingga belajar menurut pandangan ini adalah perubahan persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dapat terlihat sebagai tingkah laku. Belajar merupakan proses menata diri mengatasi konflik kognitif yang berasal dari pengalaman nyata, bacaan, dan renungan, Mustafa (Latri, 2003: 11). Belajar dipandang sebagai proses yang aktif untuk membangun pengetahuannya dengan dunia sekitar dengan membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki serta pengetahuan yang sedang dipelajari.
3.      Prinsip-prinsip Pendekatan Konstruktivistik
Prinsip-prinsip pembelajaran menurut pendekatan konstruktivistik, (Aisyah, 2007: 7-9) adalah  (1) menciptakan lingkungan dunia nyata dengan menggunakan konteks yang relevan, (2) menekankan pendekatan realistik guna memecahkan masalah dunia nyata, (3) analisis strategi yang dipakai untuk memecahkan masalah dilakukan oleh siswa, (4) tujuan pembelajaran tidak dipaksakan tetapi dinegosiasikan bersama, (5) menekankan antar hubungan konseptual dan menyediakan perspektif ganda mengenai isi, (6) evaluasi harus merupakan alat analisis diri sendiri, (7) menyediakan alat dan lingkungan yang membantu siswa menginterprestasikan perspektif ganda tentang dunia, (8) belajar harus dikontrol secara internal oleh siswa sendiri dan dimediasi oleh guru.
Pendekatan konstruktivistik cenderung menyediakan lingkungan belajar bagi siswa yang maksimal agar siswa dapat mengkonstruk pengetahuannya untuk menyelesaikan persoalan yang tengah dihadapi. Terkait dengan penyediaan lingkungan belajar yang maksimal, Knuth dan Cunningham (Wilson. dalam Inganah, 2003: 13) memberikan tujuh prinsip yaitu  (1) menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar melalui proses konstruksi pengetahuan, (2) menyediakan pengalaman dalam berbagai pandangan yaitu masalah dalam dunia nyata atau kehidupan sehari-hari, (3) mengaitkan pembelajaran dengan realita dan konteks yang sesuai, (4) mendorong siswa untuk aktif dalam proses belajar, (5) mengaitkan pembelajaran dengan pengalaman sosial, 6) menggunakan berbagai model representasi, yaitu menggunakan berbagai media pembelajaran, (7) melibatkan faktor emosional siswa dalam proses konstruksi pengetahuan.


 Referensi :

Aisyah Nyimas. 2007. Pengembangan Pembelajaran Matematika SD : Depdiknas.
Inganah S.2003 model Pembelajaran Segi empat Dengan Pendekatan Realistik,Tesis Tidak Diterbitkan: Universitas Negeri Malang.

Latri. 2003. Pembelajaran VolumeKubus dan Balok Secara Konstruktivis Dengan Menggunakan Alat Peraga di Kelas V SD Negeri 10 Watampone. Proposal Tesis Tidak Diterbitkan : Malang. 
Suherman Eman. Dkk. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Konteperen : Bandung
Wardani, Sri. 1999.Konsrtiktivisme : Depdikbud

Teori Belajar Konstruktivistik Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 komentar: