Blog Teknologi, Pendidikan, Informasi, Hiburan, Kesehatan, Islami dan Apapun Yang Bermanfaat

22 November 2013

Contoh Kasus Korupsi dan Akibat Bagi Pengungsi

Siapa yang bisa menduga, negeri ini menjadi arena pertaruhan hidup atau mati di tanah sendiri? Jutaan manusia harus meninggalkan kampung halamannya, menjadi pengungsi. Sebagai pengungsi, hidup tentu harus terus dijalani. Yang makan tetap butuh makan, yang sekolah tetap butuh sekolah. Hidup tak berhenti dengan menjadi pengungsi.

Prinsip itu rupanya dipegang teguh oleh Erna, 30 tahun. Setelah gagal mendaftarkan anaknya di SDN Cinderella, Erna merasa bersyukur karena anaknya dapat diterima di SD Tanggul Patompo. Itu berkat bantuan dari Ketua RT tempat Erna dan anak-anaknya tinggal. Ketua RT bersedia memberikan surat pengantar bahwa Erna dan anaknya benar-benar sebagai pengungsi yang membutuhkan bantuan. Anak Erna, akhirnya, bisa juga masuk sekolah. Lega rasanya hidup Erna.

Kisah Erna berawal saat terjadi kerusuhan Ambon tahun 1999 lalu. Erna sekeluarga terpaksa mengungsi ke Makassar dan tinggal dengan mertuanya. Di Ambon, Erna meninggalkan suaminya yang terpaksa mempertahankan tanah miliknya.

Kehidupan Erna semasa di Ambon boleh dikata berkecukupan. Suaminya, Nurman yang berusia 40 tahun, bekerja sebagai petani tambak yang berhasil. Ambon sungguh kota yang indah. Lautnya bening, tanahnya juga menumbuhkan hutan-belukar, termasuk hutan Bakau. Semuanya cocok bagi peternakan ikan. Nurman dan Erna, dengan bekerja keras, mampu membangun tambak ikan, bersama petani tambak lainnya.

Namun kerusuhan membawa keluarga Erna, dan ribuan orang Ambon lainnya, kepada kehancuran. Tetangga melawan tetangga. Orang satu dusun, membakar dusun lain. Neraka datang begitu cepat dan hadir di kota Ambon. Rumah-rumah hancur. Ketenteraman berubah menjadi derita panjang. Semuanya bermula, hanya dari kesalah-pahaman, lantas berubah menjadi dendam tak berujung. Erna sungguh tak mengerti dengan begitu cepatnya perubahan keadaan.

Untunglah Erna masih sempat mengungsi ke Makasar. Di kota itu, Erna menjalani hidup pas-pasan bersama dengan mertuanya di Kelurahan Maccini Sombala. Kemakmuran sebagai pasangan keluarga petani tambak udang di Ambon, tinggal kenangan. Semua  harta benda ludes ditelan oleh kemarahan dan dendam kesumat. Erna sungguh tak tahu, mengapa manusia begitu kejam mempertahankan  ego dan keyakinan mereka dalam kerusuhan Ambon itu. Erna tak sanggup mencerna, betapa mudahnya nyawa melayang.

Beragam derita menyambut keluarga Erna. Hidupnya betul-betul berubah. Erna tak pernah menduga bisa kembali ke tanah kelahiran suaminya di Makassar, dalam keadaan hidup. Hanya selembar pakaian yang melekat di badannya ketika lari dari Ambon. Erna hanya ingat anak-anaknya, untuk dibawa mengungsi bersamanya. Tanpa suami, juga saudara.

Kini Erna hidup menumpang di rumah mertuanya bersama tiga orang anaknya. Mertuanya juga sudah tua, tak bisa lagi bekerja. Erna sungguh tak menduga, hidupnya begitu menderita. Padahal, sebelumnya dia merasa akan mengalami nasib lebih baik. Sebab ketika konflik di Ambon pecah, janji-janji datang dari Makasar. Mereka akan disambut sebagai keluarga. Pemerintah dan masyarakat, akan mengurus keluarga kecilnya.  Ironisnya, kepedulian yang pernah dijanjikan seluruh lapisan masyarakat daerah ini untuk menerima keluarga dan handai taulan dari daerah kerusuhan dengan tangan terbuka, tak sepenuhnya terwujud. Bantuan yang dijanjikan juga tak sepenuhnya dipenuhi. Bukan membantu, Erna malah merasa menjadi penyakit masyarakat sekitarnya.

Bahkan ada pihak-pihak tertentu yang belum menerima kehadiran mereka. Pimpinan SDN Cinderella,  misalnya, bukannya memberikan kemudahan. Mereka menuntut imbalan. Keinginan anak Erna untuk masuk di sekolah tersebut dihadang oleh tuntutan pembayaran uang administrasi pendaftaran. Jumlahnya sangat besar bagi kantong Erna, Rp. 200.000,- untuk dua orang anak.

Erna seperti kembali menemukan neraka, dalam hidup anak-anaknya.

Erna tentu tak sanggup membayar uang sebanyak itu. Bagaimana bisa Ia mendapatkan uang itu. Hidupnya juga menumpang di rumah mertua. Suaminya juga tak pernah lagi mengirim berita. Pekerjaannya sebagai tukang cuci juga tak menghasilkan uang banyak.

 “Dimana saya mendapat uang sebanyak itu? Guru di sekolah tersebut sangat tak mengerti kondisi saya,” ujar Erna.

Erna seperti mencoba menahan perasaannya. Ia mencoba mengendalikan emosi. Keadaan mungkin memaksanya untuk tak terlalu mengumbar ekspresi diri. Tapi, Erna terus bercerita.

“Mungkin bukan hanya saya yang mengalami kejadian ini. Tapi ratusan pengungsi lain pun demikian kejadiannya. Mana kepedulian yang diumbar-umbar sebelum kami tiba dari lokasi pengungsian?” gugat Erna, akhirnya.

Air muka kesedihan semakin menebal di wajah Erna. Ia menceritakan pengalaman selama perjalanan sebagai pengungsi. Betul-betul perjalanan panjang, dan tak pernah terbayangkan selama hidupnya. Erna harus menahan lapar, berdesak-desakan naik ke kapal, sambil memasang kewaspadaan apabila ada yang datang hendak membunuh mereka.  Erna juga rela meninggalkan sang suami tak mengantarkannya sampai ke kapal. Erna juga tak banyak bertanya, kenapa suaminya memilih tinggal di Ambon, ketimbang mengantarkannya ke Makasar. Erna baru lega, ketika kapal angkatan laut yang dia tumpangi, mulai meninggalkan pelabuhan Ambon. 

“Sesampai di pelabuhan Makasar, kami baru dilepas oleh aparat keamanan dengan bekal uang sebesar Rp. 50.000,- untuk mencari alamat keluarga,” tuturnya. Tanpa uang pemberian aparat itu, Erna mungkin tak bisa menemukan alamat keluarganya.

Penderitaan Erna sekeluarga semakin menebal tatkala muncul keinginan sang anak untuk sekolah. Mereka tersandung birokrasi sekolah dan biaya pendaftaran. Untunglah, dia diminta untuk menjadi tukang cuci sejumlah tetangganya. Dari mencuci pakaian orang, Erna hanya mendapatkan upah sebesar  Rp. 5.000,- sampai Rp. 7.000,- per hari.  Uang itu hanya cukup untuk makan Erna dan anak-anak, serta mertuanya. Dengan profesi itu, tentu saja Erna tak mampu membayar biaya pendaftaran di SDN Cinderella.

Namun semuanya sudah terjadi. Setelah gagal memasukkan anaknya di SD Cinderella, Erna pun mendaftar di SD Tanggul Patompo. Bagaimanapun, anak-anaknya harus sekolah. Dengan bantuan selembar surat keterangan sebagai pengungsi dari RT, akhirnya anak-anak Erna diterima di SD Tanggul Patompo. Sungguh sebuah anugerah bagi Erna.

Erna bisa bernafas lega sebab kedua anaknya dibebaskan dari segala pembayaran. Tinggal Ia harus banting tulang, untuk memberi makan anak-anaknya.

“Biarlah kesulitan yang kami terima dulu ketika ingin menyekolahkan kembali anak kami, menjadi pelajaran bagi kita. Guru yang sehari-hari sebagai pendidik moral dan toleransi terhadap sesama, jangan lagi bersikap seperti yang dipertontonkan oleh birokrasi kaku di SD Cinderella itu,” ujar Erna, seakan berkotbah.

Wajah kaku Erna, ketika memulai memberikan informasi, berubah menjadi sedikit cerah. Ia telah melepaskan kegelisahannya.

Tapi, sampai kapan wajah cerah itu akan bertahan? Erna hanyalah cermin dari retaknya rasa kesetia-kawanan bangsa ini. Sebagai pengungsi di negeri sendiri, Erna tak henti menanggung derita.

Satu yang tak diceritakan Erna, kabar mengenai suaminya. Ia mungkin tak mau orang lain tahu, betapa gusarnya dirinya, ketika mengingat Nurman. Entah Nurman masih hidup, atau mati di Ambon sana....


Disklaimer
Kisah-kisah dalam Contoh Kasus Korupsi ini ditulis berdasarkan wawancara dengan masyarakat miskin di Yogyakarta, Jakarta dan Makassar. Kisah-kisah ini bukan representatif untuk seluruh Indonesia dan juga tidak mengimplikasikan semua guru, polisi korup. Ini mewakili pilihan pengalaman-pengalaman oleh anggauta masyarakat miskin sesuai dengan terpautnya mereka. Kisah-kisah ini berusaha untuk membesarkan suara mereka. Nama-nama yang dipergunakan bukan nama yang sebenarnya.

Contoh Kasus Korupsi dan Akibat Bagi Pengungsi Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 comments: