Blog Informasi Apa Aja

22 November 2013

Contoh Kasus Korupsi Calon Tenaga Kerja

Siapa yang tak mengenal sebutan sebagai pencari kerja atau setengah penganggur? Status itu melekat dalam diri banyak calon tenaga kerja potensial Indonesia. Kaum laki-laki dan perempuan ini menjadi rentan dengan segala jurus tipu-menipu orang-orang yang memanfaatkannya. Mereka menjadi korban, ditengah keinginan untuk segera punya penghasilan.

Begitu juga Prihatini, biasa dipanggil Tini, sudah lama menunggu tawaran untuk memperoleh gaji yang layak. Buruh berusia 32 tahun yang tinggal di Jalan Suryowijayan Yogyakarta ini rindu pekerjaan yang lebih peduli pada nasibnya. Untuk itulah berdasarkan infomasi yang diperoleh, Tini mendatangi PT Duta Bangsa (DB) pada bulan Maret 1997. PT yang beralamat di Jl. Pasanggrahan Selatan itu merupakan perusahaan jasa penyalur tenaga kerja. Sebagai bagian dari persyaratan, Tini segera menyetor uang pendaftaran sebesar Rp. 25.000, tanpa ragu-ragu.

Rini pulang ke rumah setelah PT itu berjanji akan menghubunginya secepatnya. Tini menunggu janji itu, sehari, seminggu, tapi tak ada kabar.

Karena penasaran, beberapa hari kemudian Tini menghubungi Haryanto, pimpinan PT DB. Haryanto hanya meminta Tini untuk bersabar karena banyak calon tenaga kerja lain yang sudah mendaftar sebelumnya. Tapi Tini terus mendesak. Bagi Haryanto, mungkin itu kesempatan emas. Sebagaimana hukum ekonomi, ketika permintaan meninggi, itu berarti peluang untuk menaikkan harga. Dengan cerdik, Haryanto lalu memberikan jaminan berupa “kepastian” bagi Tini untuk meraih pekerjaan dengan cepat. Tentu dengan syarat agar Tini bersedia mengeluarkan lagi ‘biaya tambahan’ sebesar Rp. 300.000.

“Saya kepingin cepat kerja. Jadi saya mau saja mengeluarkan uang ‘suap’ itu untuk pimpinan perusahaan”, ungkap Tini, ringan.

Tini lalu membayar “biaya tambahan” yang diminta. Sebelumnya memang sudah ada bukti, berkat bantuan PT DB, keponakan Tini berhasil  memperoleh pekerjaan di sebuah pabrik di Semarang. Dan lagi-lagi, usai menyeluarkan uang, Tini harus mempunyai kesabaran, menunggu dan menunggu.

Lain halnya dengan Ningsih, tetangga Tini. Ibu berusia 40 tahun yang mempunyai dua anak ini juga ikut mendaftar ke PT DB. Alasanya juga sama, yakni ingin memperoleh pekerjaan guna menambah penghasilan dan meringankan beban hidup keluarga. Sebelum bersuami, Ningsih pernah bekerja sebagai staf marketing produk kosmetik. Setelah anak pertamanya lahir, Ningsih berjualan makanan di Sekolah BOPKRI – Gondolayu dengan modal awal Rp. 200.000. Dagangan itu dia tekuni dari tahun 1995 sampai 1997. Keuntungannya lumayan, sekitar Rp. 200.000 – 300.000 per bulan. Ningsih berhenti dagang ketika anak keduanya lahir.

Suami Ningsih bekerja sebagai sopir taksi dengan penghasilan tidak seberapa. Dalam bayangan Ningsih ketika anak keduanya sudah mulai sekolah, nanti, tentu kebutuhan keluarga terus meningkat. Sekarang anak kedua Ningsih masih berumur 3 tahun. Ningsih juga ingin kembali berjualan untuk membantu meringankan beban suaminya. Untuk berjualan lagi, tentu butuh modal. Ningsih berharap, lewat bantuan PT DB, Ia dapat memperoleh pekerjaan dan sekaligus mengumpulkan modal.

Kalau dihitung-hitung, Ningsih mengakui penghasilan suaminya sebagai sopir taksi hanya cukup untuk biaya hidup. Suaminya setiap bulan membawa pulang sekitar Rp 400.000,-. Uang itu habis dipakai untuk memenuhi kebutuhan makan-minum sehari-hari dan biaya sekolah anak sulungnya yang sudah kelas II SMP. Biaya sekolah itu meliputi uang Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan (SPP), beli buku, sepatu, juga keprluan menjelang liburan sekolah atau awal semester baru.

Karena memang tak punya uang, Ningsih enggan memberikan uang tambahan kepada PT DB. Lagipula, dia tidak yakin dengan janji pimpinan perusahaan untuk segera mencarikannya pekerjaan.

“Bagi saya uang Rp. 300.000,- itu cukup besar. Saya pun tidak yakin akan segera mendapat pekerjaan”, tegas Ningsih.

Ternyata penantian mereka memang panjang.

Enam bulan sudah Tini dan Ningsih menunggu janji pimpinan PT DB. Mereka mendaftar dan membayar pada bulan Maret, tapi hingga bulan September 1997 belum ada kepastian tentang perusahaan yang bisa menerima mereka sebagai karyawan.

“Korban” PT DB bukan hanya Tini dan Ningsih. Para pemburu kerja lainnya, sekitar 15 orang, mulai ribut dengan ketidakpastian nasib mereka. Kasus ini sempat diangkat oleh media massa lokal. Akhirnya para pencari kerja itu mengadukan pimpinan PT. DB ke polisi. Kesepakatan dicapai, pimpinan perusahaan harus mengembalikan ‘uang suap’ yang telah disetorkan oleh para pencari kerja secara penuh.

Sementara pemburu kerja lainnya menuntut pengembalian ‘uang suap’ yang telah mereka setorkan, Tini malah takut untuk memintanya kembali.

“Saya sudah legowo uang saya diambil oleh perusahaan penyalur tenaga kerja itu”, tutur Tini.

Tini kini menekuni pekerjaannya sebagai tukang cuci dan masak dengan penghasilan sekitar Rp. 150.000 sebulan. Paling tidak, untuk sementara, Tini tampaknya melupakan mimpinya untuk mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang layak. Tini, mungkin, sedang menunggu kesempatan berikutnya, entah dari pihak mana.

Sementara Ningsih, harus puas dengan pengembalian uangnya oleh PT DB. Keinginannya untuk membantu meringankan beban suami, ternyata sulit diujudkan. Anak-anaknya makin bertambah besar. Si sulung akan masuk SMU, dan di bungsu juga akan masuk SD beberapa tahun kemudian. Ningsih, mungkin, akan meneruskan rencananya berjualan makanan, dengan menyimpan uang belanja, sedikit demi sedikit. Ia tentu berharap bisa meminjam modal dari orang lain, entah siapa. 



Disklaimer
Kisah-kisah dalam Contoh Kasus Korupsi ini ditulis berdasarkan wawancara dengan masyarakat miskin di Yogyakarta, Jakarta dan Makassar. Kisah-kisah ini bukan representatif untuk seluruh Indonesia dan juga tidak mengimplikasikan semua guru, polisi korup. Ini mewakili pilihan pengalaman-pengalaman oleh anggauta masyarakat miskin sesuai dengan terpautnya mereka. Kisah-kisah ini berusaha untuk membesarkan suara mereka. Nama-nama yang dipergunakan bukan nama yang sebenarnya.
 

Contoh Kasus Korupsi Calon Tenaga Kerja Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 komentar: