Blog Informasi Apa Aja

05 Desember 2013

Contoh Cerita Korupsi Beras

Contoh Cerita Korupsi
 

Beras Susut Lurah Senyum


Nungki sudah menjadi warga Maccini Sombala sejak tahun 1986. Ia berasal dari Kabupaten Polmas. Ia pernah menjalankan usaha menyicilkan barang pada tahun 1988. Tahun 1999, Ia melakukan usaha ekspor udang lobster ke luar negeri. Tapi usahanya macet. 

Bisnis berhenti, krisis mendera, Nungki kehilangan penghasilan keluarga. Untunglah, ketika ada program bantuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) berupa beras kepada warga tempat tinggalnya, Nungki menyambut dengan gairah. Belum ada, memang, doa menolak rezeki.

“Awalnya beras JPS sebanyak 10 kg per bulan secara rutin diterima penuh oleh warga dengan membayar Rp 10.000,-.  Sedangkan di pasar beras itu bisa seharga Rp 17.500,” ujar Nungki.

Yang namanya JPS, warga harus menerima dalam keadaan utuh. Berita itu sering diikuti Nungki dari media massa. Ketika warga menerima jumlah yang tak patut, tentu ada yang tak beres. Paling tidak, terjadi penyimpangan kebijakan.

Sebetulnya, menurut Nungki, penyimpangan JPS beras sudah berlangsung lama. Namun warga baru mempersoalkannya bulan Oktober 2000. Penyimpangan itu terjadi, karena ulah Lurah Maccini Sombala. Sepengetahuan Nungki, beras JPS dikirim oleh Dolog sebanyak 10 kg per Kepala Keluarga (KK). Tapi ketika diterima oleh RW sudah menyusut sebanyak 2 hingga 3 liter per paket.

Selain penyusutan, waktu pendistribusian juga diulur-ulur, hingga dalam tiga bulan hanya dibagikan dua kali. Seharusnya tiga kali. Berarti ada 10 liter per KK yang ditilep petugas setiap tiga bulan. Nungki menganggap Lurah sebagai pelaku utama penyimpangan itu, dibantu Edi (24 tahun) warga yang bertugas menimbang beras. Selain keduanya, juga terlibat Sutana (35 tahun), warga Kelurahan Sambung Jawa, yang bertugas menjual beras hasil susutan kepada ketua RW lain.  Ketua RW itu menjual beras tersebut melalui tetangganya ke pasar PT. Pamos dan pasar Sambung Jawa.

November 2000, kasus penyelewengan beras JPS tersebut dipublikasikan oleh suami Nungki di koran Pedoman Rakyat, dengan lampiran foto tumpukan beras warga yang disembunyikan di rumah Rusli, Ketua RW. Rusli mengaku kurang tahu status beras tersebut. Sebaliknya, istri Rusli mengatakan beras itu titipan Pak Lurah.

Februari 2001, warga demonstrasi di Kantor Kecamatan dengan tuntutan agar lurah Maccini Sombala diberhentikan karena terbukti telah menyelewengkan beras JPS. Warga secara resmi menyurati Walikota Makassar. Sayangnya, Walikota Makassar saat itu sedang di Mekah. Dalam pernyataannya, 6 Ketua RW yang menanda-tanganinya menyatakan siap mengundurkan diri bila Lurah tidak diganti. 

Lurah sendiri tampaknya tidak merasa terganggu. Bahkan sebelum kasus tersebut termuat di koran, Lurah sudah lebih dahulu memasukkan pembelaannya. Lurah merasa difitnah. 

Lurah itu belakangan diketahui memiliki backing yang kuat. Ia tidak merasa risih atau takut akan kehilangan kedudukan. Alasan yang disampaikan Lurah menyangkut perbedaan takaran itu adalah karena adanya penyusutan penanganan.

“Itu soal yang lumrah terjadi,” ujar Lurah waktu itu, dengan enteng..

Tapi Ketua RW lain, Surya Brata, tidak percaya dengan alasan itu, karena jumlah beras yang susut mencapai 3-4 liter per 10 kg. Surya pernah menakar sendiri beras tersebut langsung di depan para petugas. Ia menunjukkan besarnya kekurangan takarannya. Para petugas memang tidak bisa menyangkal fakta itu, tetapi mereka tak melakukan apa-apa setelah mengetahuinya.

Walikota juga tidak bersedia mengganti lurah Maccini Sombala. Walikota hanya mengganti petugas lapangan yang menangani pembagian beras. Petugas yang sebelumnya berasal dari kelurahan, diganti dengan petugas dari kecamatan.

Namun kekurangan takaran tetap saja terjadi. Johansyah, Sekretaris Lurah Maccini Sombala, menyatakan bahwa kekurangan takaran itu bisa saja terjadi sebelum beras sampai ke kelurahan.

“Saya yang sering menjemput beras JPS itu dari gudang Dolog. Di gudang memang ada penimbangan mobil sebelum dan sesudah diisi beras. Selisih timbangan mobil itulah yang dicatat sebagai jumlah beras yang sudah dikeluarkan. Namun hasil penimbangan itu tidak pernah diperlihatkan, sehingga agak susah untuk mengajukan klaim,” ujar Johansyah.

Nungki tentu saja tidak bisa menerima argumen itu. Kenyataannya ada beras JPS hasil susutan yang ditumpuk di tempat dua Ketua RW sebelum dijual ke pasar PT. Pamos dan pasar Sambung Jawa. Nungki merasa gregetan melihat lurah membodohi masyarakat dengan cara seperti itu.

Kenyataan lurah mereka ternyata mempunyai backing yang kuat sungguh mengecilkan hati Surya bersama warga lain yang telah berusaha sepenuh hati untuk mengungkap penyelewengan beras JPS itu. Bahkan mereka sampai melakukan demo segala, meniru mahasiswa. Tapi keluhan mereka ternyata tidak mendapat tanggapan positif dari camat dan walikota.  Pak RW ini mencoba menahan diri untuk tidak bertindak lebih jauh, karena akan muncul keributan. Sebaliknya, Surya berharap penggantian Camat A. Makkulawu dengan A. Khaerul akan bisa membantu penyelenggaraan pemerintahan yang lebih bersih di kelurahan Maccini Sombala.

Selain itu, akibat penyimpangan JPS beras itu terkadang membuat tekor. Surya sebagai Ketua RW yang bertugas menjadi distributor beras JPS ke warga. Ia harus menambah sendiri kekurangan jatah beras akibat adanya penyusutan-penyusutan tersebut. Dia merasa tidak sampai hati melihat warga yang tidak kebagian jatah.

Orang lain yang untung, Surya yang buntung...


Disclaimer
 
Kisah-kisah dalam Contoh Kasus Korupsi ini ditulis berdasarkan wawancara dengan masyarakat miskin. Kisah-kisah ini bukan representatif untuk seluruh Indonesia Ini mewakili pilihan pengalaman-pengalaman oleh anggota masyarakat miskin sesuai dengan terpautnya mereka. Kisah-kisah ini berusaha untuk membesarkan suara mereka. Nama-nama yang dipergunakan bukan nama yang sebenarnya serta angka mata uang dan tahun hanya ilustrasi.


Contoh Cerita Korupsi Beras Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 komentar: