Blog Teknologi, Pendidikan, Informasi, Hiburan, Kesehatan, Islami dan Apapun Yang Bermanfaat

06 April 2014

Budidaya Padi Sawah

Tanaman padi termasuk golongan rumput-rumputan yang dikenal dengan sebutan Oryza sativa Linn (Anonim, 1995). Tanaman padi dapat dikelompokkan dalam dua (2) bagian, yaitu : (1) bagian vegetatif, terdiri dari akar, batang dan daun; (2) bagian generatif, terdiri dari malai atau bulir, bunga, buah dan bentuk gabah. Tanaman dapat tumbuh dengan baik di daerah yang beriklim panas dan lembab. Tanaman ini membutuhkan curah hujan yang baik, rata-rata 200 mm per bulan atau lebih, dengan distribusi selama 4 bulan. Curah hujan yang dikehendaki adalah 1.500 – 2.000 mm per tahun. Suhu yang baik bagi pertumbuhan tanaman padi adalah 23 derajat celcius ke atas. Ketinggian tempat yang cocok adalah 0 – 1.500 meter dari permukaan laut. Tanah untuk kebutuhan padi dibutuhkan adanya lumpur dengan perbandingan fraksi air, liat dan debu seimbang. Pada tanah sawah dibutuhkan air dalam jumlah yang banyak dan butir-butir tanah yang dapat mengikatnya (Anonim, 1995).

Umumnya setiap petani didalam berusahatani berbeda-beda dalam melakukan kegiatan yang berhubungan dengan produksi khususnya padi sawah. Besar kecilnya produksi yang diperoleh ditentukan oleh kemampuan petani dalam menerapkan teknologi yang ada. Syamsuddin Abbas dalam Ismuadji (1983) menyatakan bahwa yang menyebabkan perbedaan-perbedaan produksi padi sawah yang dicapai oleh setiap petani yaitu bahwa teknologi tidak sepenuhnya diserap oleh petani. Hal senada dikemukakan pula oleh Soehardjo dan Dahlan Patong (1984) bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi petani dalam menerapkan teknologi baru yaitu umur petani, pendidikan, pengalaman berusahatani, jumlah tenaga kerja, jumlah pendapatan dan luas areal garapan.

Hayami Okhawa (1990) menyatakan bahwa peningkatan produksi padi sawah sangat ditunjang oleh teknologi dan hanya akan menguntungkan bila petani sebagai pengelola usahataninya mau dan mampu menerapkan teknologi tersebut. Soehardjo dan Dahlan Patong (1984) menyatakan bahwa petani akan lebih mau menerapkan teknologi baru dalam usahataninya bila teknologi tersebut dapat memberikan keuntungan yang nyata bagi petani, mudah digunakan dengan biaya terjangkau serta tidak beresiko terlalu tinggi. Fadholi Hernanto (1989) mengemukakan bahwa petani akan lebih respon dalam menerapkan suatu teknologi baru bila memberikan keuntungan langsung, tidak membutuhkan waktu yang lama dan tidak beresiko terlalu tinggi. Penerapan teknologi baru dalam operasi usahatani padi sawah pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas guna memenuhi kebutuhan pangan maupun pendapatan petani. Peningkatan produksi per satuan luas dan waktu pada usaha tani padi sawah tersebut hanya akan dicapai melalui penerapan teknologi panca usahatani yang optimal (H. Siregar, 1993). Selanjutnya dikatakan bahwa panca usahatani merupakan lima tindakan budidaya yang dilaksanakan untuk mendapatkan hasil usahatani yang optimal. Tindakan tersebut meliputi : penggunaan benih unggul, cara bercocok tanam yang baik, pemberian pengairan yang baik, pemupukan yang tepat serta pemberantasan hama dan penyakit tanaman. Kelima jenis kegiatan ini mempunyai keterkaitan dan ketergantungan yang sangat erat antara satu dengan yang lainnya.

1. Penggunaan Benih Unggul

Benih varietas unggul ditinjau dari segi agronomi merupakan benih yang memiliki sifat unggul disbanding dengan varietas lain sehingga pada tingkat kondisi yang umum benih varietas unggul akan mempunyai hasil yang lebih tinggi. Sebagaimana Anwas Adiwilaga (1992) mengemukakan bahwa padi yang mampu memberikan hasil tinggi pada satuan luas tanah adalah yang memiliki sifat-sifat : (1) mempunyai anakan yang banyak; (2) persentase anakan yang menghasilkan malai antara 80 – 90 %; (3) responsif terhadap pupuk dan berumur pendek; (4) lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Penggunaan benih unggul di kalangan petani lokal merupakan hal yang baru dalam proses usahataninya, namun cara-cara yang berkaitan dengan pemilihan bibit yang baik telah lama dilakukan, seperti memilih bibit yang tua, berisi dan berwarna kuning bersih. Sedangkan menurut H. Siregar (1993) bahwa syarat suatu benih unggul yaitu : (1) tinggi tanaman antara 22 – 25 cm; (2) daun berkisar antara 5 – 6 helai; (3) batang bawah besar dan keras; dan (4) bebas dari hama dan penyakit.

2. Bercocok Tanam

Bercocok tanam yang baik memungkinkan tanaman dapat tumbuh dengan baik dan dapat memberikan produksi yang tinggi. Cara bercocok tanam ini meliputi : pengolahan tanah, pesemaian, pembuatan bedengan, penaburan benih, pencabutan benih, penyiangan dan penyulaman (Soehardjo dan Dahlan Patong, 1984). Penanaman benih padi sawah dilaksanakan menurut pola tertentu yang jarak tanamnya tergantung pada varietas, kesuburan tanah dan musim. Pada varietas unggul digunakan jarak tanam 20 x 20 cm pada musim kemarau, dan 25 x 25 cm pada musim hujan dengan 2 – 3 batang benih tiap lobang sedalam 2 cm tegak lurus (Sumartono, 1984).

3. Pengelolaan Pengairan

Pengairan (irigasi) dalam usahatani padi sawah merupakan syarat pokok yang menjamin proses fisiologi pertumbuhan tanaman padi sawah. Pengairan disini yaitu usaha pemanfaatan air (irigasi) bagi pertumbuhan tanaman padi sawah (Mubyarto,1989).Peningkatan produksi akan lebih cepat terwujud melalui pengembangan suplay air yang dikelola secara baik.Dengan adanya irigasi, maka diharapkan frekwensi pemanfaatan dan penggunaan lahan, penerapan teknologi, penggunaan tenaga kerja dan usaha peningkatan produksi usahatani akan berlangsung lebih cepat dan terarah (Kaslan. A. Tohir, 1983). Selain itu, adanya air irigasi dapat pula mengatasi faktor-faktor pembatas tanah, tanah yang kurang air, menyuburkan tanah tanah yang kurus melalui zat hara yang diangkut serta mengefektifkan input-input baru dalam proses produksi. Menurut Sumartono, 1984 bahwa untuk memperoleh produksi yang tinggi pada suatu usahatani, maka pengairan hendaknya dilaksanakan sesuai dengan tahapan-tahapan sebagai berikut : (1) pada awal pertumbuhan, yaitu setelah bibit padi ditanam, sawah diairi kira-kira 2 – 3 cm dari permukaan tanah; (2) saat pembentukan anakan, yaitu air dipertahankan kira-kira 3 – 5 cm (masa krisis pertama); (3) saat pembentukan anakan, tunas bulir, air dipertahankan pada kisaran 10 cm dari permukaan tanah; (4) saat pembungaan (masa krisis kedua).

4. Pemupukan

Pemupukan merupakan salah satu usaha untuk menambah ketersediaan unsur hara yang diperlukan oleh tanaman. Disamping itu pula, pemupukan diperlukan untuk memperbaiki sifat fisik, biologi dan kimia tanah (Soepardi, 1992). Dengan demikian pemupukan merupakan suatu usaha dalam meningkatkan produksi tanaman. Untuk terselenggaranya pemupukan tanaman secara baik dan efektif, maka yang perlu diperhatikan adalah dosis yang digunakan, cara pemberian pupuk, waktu yang tepat pemberian pupuk dan keadaan air pada saat pemberian pupuk. Sebaliknya, bila pemberian pupuk tidak tepat akan mengakibatkan keseimbangan unsur hara di dalam tanah tidak terkontrol dan akibatnya produktivitas lahan akan menurun (Soepardi, 1992). Menurut Sumartono (1984), waktu pemberian pupuk dan dosis yang tepat yaitu : (1) Pupuk Natrium (N) berupa Urea diberikan sebanyak 2 kwintal per hektoare dan diberikan dua kali : (a) satu jam sebelum tanam (saat tanam), dosis yang diberikan sebanyak 2/3 bagian dari jumlah pupuk urea, (b) pada umur 40 hari setelah tanam, dosis yang diberikan sebanyak 1/3 bagian dari pupuk TSP; (2) Pupuk Phospor (TS) dan Kalium (ZK) masing-masing sebanyak satu kwintal per hektoare yangdiberikan 1 - 2 hari sebelum tanam.


5. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pada dasarnya pengendalian hama dan penyakit tidak meningkatkan produksi, akan tetapi dapat menjaga turunnya produksi sebagai akibat adanya serangan hama dan penyakit (Bakhtiar Rifai, 1980). Dengan adanya kemajuan teknologi pertanian maka usaha pengendalian hama dan penyakit dapat dilakukan secara biologis, kimia dan secara fisik, termasuk di dalamnya pengaturan pola tanam dan penggunaan varietas-varietas unggul (Soemartono, 1984). Bila hal tersebut dilaksanakan sesuai dengan anjuran, maka produksi padi sawah dapat dipertahankan dan pendapatan petani juga akan meningkat.
 

Sumber : Skripsi Teknik Pertanian  ( Penerapan Teknologi Pada Budidaya Padi Sawah )

Budidaya Padi Sawah Rating: 4.5 Diposkan Oleh: success online

0 comments: