Blog Informasi Apa Aja

11 April 2015

Syarat / Kriteria Menjadi Pemimpin Umat Islam

syarat atau kriteria pemimpin umat islam
Demikian urgennya seorang pemimpin sebagai agent of change dalam Islam yang diharapkan dapat membawa umat manusia kepada suatu perubahan, melahirkan sejumlah pendapat dan kriteria dari sejumlah tokoh. Sebagian dari pendapat sempat muncul kepermukaan dan menjadi satu polemik sendiri dalam wacana keislaman.

Menurut Ahmad Ratif 'Armush, syarat-syarat berikut dikategorikan sebagai syarat duniawi yang harus ada pada seorang pemimpin yang mampu membangkitkan umat sehingga dapat menempati posisi yang mulia di kalangan bangsa-bangsa di belahan bumi. Syarat tersebut di antaranya adalah merdeka, lelaki, baligh, berakal dan bertubuh sehat yang disebut dengan syarat inti. Sejumlah syarat lain yang ditawarkan adalah berilmu, bersih, berani dan mempunyai pendapat yang disebut dengan syarat kesempurnaan.

Pendapat Al-Mawardi mengenai mereka yang berhak memangku kepemimpinan (ahl al-'imamah). Syarat yang diperuntukkan kepada mereka ada tujuh: Pertama, adil dengan berbagai persyaratannya. Kedua, berpengetahuan yang membawa kepada munculnya ijtihad dan hukum atas berbagai bencana (peristiwa). Ketiga, indera dapat berfungsi dengan sempurna, baik pada pendengaran, penglihatan, maupun lidah. Hal itu dimaksudkan supaya dapat membenarkan apa yang ia temukan melalui indera tersebut secara langsung. Empat, anggota tubuh bebas dari cacat yang dapat menghalangi pelaksanaan gerak dan ketangkasan berdiri. Kelima, mempunyai pendapat yang membawa kepada munculnya kebijakan terhadap rakyat dan pengaturan berbagai kepentingan. Keenam, berani yang menimbulkan adanya perlindungan terhadap elemen kecil dan memerangi musuh. Ketujuh, yaitu me-nyangkut keturunan. 

Pendapat al-Fara ada tiga syarat yang harus dimiliki oleh agent of change yang berhak memangku kepemimpinan (ahl al-'imamah): pertama hendaknya mempunyai sifat yang pantas untuk menjadi qadi, berupa baligh, berakal, berilmu pengetahuan dan adil. Kedua menguasai teknik peperangan (gizabul fikri), politik, mampu memberikan keadilan dan membela rakyat. Ketiga hendaknya orang yang paling sempurna tingkat pengetahuan dan agamanya. Sedang  menurut pendapat Ibnu Khaldun, syarat memangku jabatan ini ada empat: berilmu, adil, adil (kompeten), dan meiliki indera serta anggota tubuh yang sehat yang akan berpengaruh pada pengambilan pendapat dan tindakan.

Nabi Muhammad sebagai seorang pemimpin dalam sejarah hidupnya telah membuktikan bahwa syarat-syarat tersebut di atas masihlah kurang sempurna. Sebagai pemimpin sekaligus sebagai individu, panglima perang dan kepala negara ia melakukan perubahan-perubahan tatanan sosial kemasyarakatan sebagai kepala keluarga dan pemerintahan. Nabi Muhammad memiliki kesabaran, ketenangan dan keikhlasan yang luar biasa. Sebagai agent of change Ia telah banyak merubah dan memperbaharui tatanan kehidupan umat manusia mulai dari segi pembinaan tauhid, moral, etika serta mengatur cara berinteraksi dengan individu yang satu dengan individu yang lain, juga cara berinteraksi dengan golongan / komunitas lain.

Usaha Nabi dalam menata serta memperbaharui masyarakat Quraisy bukanlah suatu hal yang mudah, Ia mendapat tantangan yang luarbiasa dari masyarakat pemilik sistem yang dianut secara turun temurun itu. Dan justru dari hal itu pula keperibadian Nabi Muhammad menjadi bentuk dan tipe agent of change yang melegenda. Demikian pula halnya yang dialami oleh para agent of change-agent of change Islam dalam abad keemasan dan kemunduran di zaman modern saat ini. Banyak tokoh-tokoh sentral dalam perjalanan sejarah Islam yang mengalami hal serupa dalam usaha untuk merubah satu tatanan sosial kemasyarakatan. Bercermin dari kegigihan dan kepemimpinan sejumlah tokoh Islam itulah secara empiris kita tentu telah dapat mengambil beberapa bagian terpenting dalam tipe dan karakter seorang agent of change dalam tinjauan sejarah peradaban Islam.

Dalam konteks dan dalam pandangan Islam agen perubahan dan pembangunan dapat dibagi ke dalam empat kategori besar. Kategori yang pertama adalah menyangkut ajaran Islam itu sendiri, yang kedua manusia sebagai objek sekaligus sebagai subjek pembangunan, yang ketiga adalah implementasi dari ajaran dan individualis dalam bentuk amalan dan perbuatan, dan yang keempat adalah lingkungan di mana sebuah proses pembangunan berlangsung. Hal terakhir ini terkait dengan lingkungan dengan segala unsur dan faktor yang melingkupinya.

Melaksanakan ajaran agama  berarti membangun dan melaksanakan pembangunan berarti mengamalkan ajaran agama. Ini artinya antara agama dan pembangunan saling terkait ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Pembuktiannya, secara terprogram norma ajaran agama mencakup seruan untuk memperbaiki diri yang membutuhkan kepada perubahan. Perubahan sendiri adalah elemen pembangunan. Apalagi jika dikaitkan dengan teori, bahwa keberhasilan pembangunan sektor agama amat menentukan pembangunan pada sektor lain.

Habib Ghuzairin, dikutip Dr Saleh Muntasir, mengemukakan bahwa dalam konteks perubahan, agama berfungsi setidaknya sebagai empat hal; yakni: (1) pemberi petunjuk dan meletakkan dasar keimanan, (2)  memberi semangat dan nilai ibadah yang meresapi seluruh aktivitas manusia dalam hubungannya dengan Tuhan, antarmanusia, serta dengan alam semesta yang tercakup dalam dimensi sosial, dan demensi kosmologis, (3) Memberi inspirasi, motivasi dan stimulasi agar seluruh potensi manusia agar diaktifkan secara maksimal, (4) Memadukan aktivitas manusia menjadi kesatuan yang utuh. Islam sebagai agama merupakan lembaga spiritual yang berperan penting sebagai agent of change sepanjang sejarah dunia.

Syarat / Kriteria Menjadi Pemimpin Umat Islam Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Faisal Nisbah

0 komentar: